Upaya Mendongkrak Cerita Baru dalam Pertunjukan Ketoprak Melalui Workshop

0
71
Berlangsungnya workshop penulisan naskah cerita ketoprak di Balai Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, mulai Jumat (22/Oktober) s/d Minggu (24/Oktober) 2021.(Foto/SN-dok-wan)

SAMIN-NEWS.com, PENGGAGAS bahwa seni pertunjukan ketoprak itu butuh ”bank naskah cerita” adalah Paryanto, ketika yang bersangkutan masih mengemban tugas sebagai Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati. Pertimbangannya, tentu berdasarkan kondisi riil bahwa kesenian tersebut selama ini atau bahkan sudah bertahun-tahun saat mendapat order pertunjukan selalu membesut cerita yang digagas atau ditulis pendahulunya.

Dengan demikian, cerita tersebut sudah menjadi ”merk” kebenaran akan suatu cerita yang sudah tak bisa ditawar, sehingga jika ada grup ketoprak satu dan lainnya membawakan cerita berjudul sama tapi tidak sama isinya, oleh penonton maupun sutradara ketoprak itu sendiri diklaim sebagai hal cerita tidak benar. Sebab, kebanyakan cerita yang ditampilkan dalam seni pertunjukan kesenian itu berlatar belakang, meskipun di balik sejarah tersebut juga menarik untuk dibesut sebagai cerita, dan biasa disebut sebagai cerita carangan.

Karena itu, melalui upaya penyelenggaraan ‘workshop penulisan naskah cerita ketoprak yang dilaksanakan bersamaan kegiatan ”Kertomulyo Culture Festival” yang berlangsung sejak Rabu (20/Oktober) s/d Minggu (24/Oktober) 2021, mulai membuka wawasan para peserta. Yakni, untuk mendongkrak hadirnya cerita baru dalam seni pertunjukan ketoprak itu yang sudah terlalu lama menikmati cerita-cerita yang sepertinya belum ada penggantinya.

Minimal, jika kalangan penggemar kesenian tersebut sudah terlanjur menikmati indahnya cerita dari masa-masa awal sejarah peradaban di Tanah Jawa hingga masuknya peradaban Mataram Islam tentu sebagai bagian cerita ketoprak  dianggap paten adalah sah-sah saja. Hanya saja sayangnya, semisal hadir cerita baru dari sisi lain masa peradaban tersebut, penggemar seni pertunjukan ketoprak belum tentu bisa menerima.

Salah satu contoh, penulis juga pernah membesut sisi lain cerita pemberontakan Kadipaten Pati pada masa Pragola I atau Wasis Joyokusumo terhadap Panembahan Senopati Ing Alaga Mataram. Cerita tentang kesetian seorang pengikutnya, Bondan Srati yang dipesan tidak boleh meninggalkan lokasi konflik di pinggir Kali Dengkeng dekat Prambanan sebelum Sang Adipati kembali menjemputnya, meskipun nyawa taruhannya.

Ternyata Bondan Srati harus menemui ajalnya dirajam para prajurit Mataram, karena kesetiaan pada ucapan sesembahannya. ”Yakni, jangan meninggalkan tempat ini sebelum kami menjemputmu,” benar-benar dindahkan, tapi ketika cerita ini dipentaskan yang tidak tertarik justru para seniman atau pemain ketopraknya.

Sebab,  pemegang peran dalam cerita tersebut hampir tak ada yang bisa tidur karena terus menerus tampil sesuai tuntutan cerita. Barangkali, karena cerita itu menuntut peran pemain secara maksimal akhirnya menjadi tidak menarik untuk ditampilkan sebagai cerita dalam seni pertunjukkan ketoprak, sehingga penulis naskah cerita harus mampu menghidupkan roh cerita yang ditulisnya, tanpa membuat seniman harus jatuh bangun memainkannya.

Dengan kata lain, sebagaimana dituturkan Paryanto semasa masih menjabat sebagai Kabid Kebudayaan, bahwa tujuan penyelenggaraan workshop penulisan naskah cerita ketoprak tersebut hasilnya diharapkan muncul banyak penulis cerita tersebut. Dengan demikian, minimal pihak Kebudayaan mempunyai bank naskah yang bisa dipentaskan sewaktu-waktu oleh grup ketoprak yang berminat.

Di sisi lain, jangka pendek yang hendak disambungkan hasil workshop penulisan naskah cerita ketoprak ini dengan rencana penyelenggaraan Festival Ketoprak Pelajar Tahun 2022. Tapi pelaksanaannya didahului dengan penyelenggaraan lomba Penulisan Naskah Cerita Ketoprak, minimal oleh para peserta workshop yang sudah mendapat bekal, baik teori maupun praktiknya.

Kita tunggu saja, karya-karya naskah cerita ketoprak dari mereka.!!