Untuk Membangun Jalan Tembus di Patiayam Harus Melewati Lima ”Bunuk”

0
60
Petani Sukobubuk, Kecamatan Margorejo saat pulang dari ladang garapannya di perbukitan Patiayam.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, JIKA rencana dan upaya membangun jalan tembus Kaliampo, Desa Wangunrejo hingga Sukobubuk, keduanya di Kecamatan Margorejo, Pati, benar-benar berhasil maka sejarah akan mencatatnya. Yakni, dua Bupati Pati dengan masa pemerintahan berbeda benar-benar berhasil membedah perbukitan kawasan hutan menjadi ruas jalan umum yang bisa diakses oleh siapa saja, utamanya warga setempat dan sekitarnya.

Satu di antara Bupati tersebut tak lain adalah Letkol Art Saoedji (alm) yang masa kepimpinannya selama dua periode, berhasil membuka perbukitan kawasan hutan menjadi jalan tembus cukup panjang melintas empat kecamatan. Yakni, Kecamatan Tlogowungu, Gunungwungkal, Cluwak, dan Kecamatan Dukuhseti.

Bahkan di antara dua wilayah kecamatan yang disebut terakhir, melintasi kawasan hutan jati milik Perhutani,  yaitu hutan jati Ngarengan. Sedangkan Bupati kedua yang juga melakukan hal sama, dan sampai saat ini masih menjabat adalah Haryanto, bahkan sekaligus membedah perbukitan tapi yang sudah dilaksanakan belum tuntas.

Sedangkan perbukitan dimaksud, adalah kawasan gunung Kendeng di Pati selatan antara Desa Kedumulyo dan Tompegunung, keduanya di Kecamatan Sukolilo. Hanya saja, lanjutan dari ruas jalan di atas perbukitan pegunungan itu sampai saat ini ruas jalannya belum menyambung hingga ruas jalan provinsi Pati-Purwodadi, masuk di wilayah Desa/Kecamatan Sukolilo.

Sementara itu, saat ini juga merencanakan membedah perbukitan kawasan Patiayam sebagai jalan tembus antara Kaliampo-Sukobubuk yang benar-benar ditunggu keberhasilannya oleh warga, utamanya warga Sukobubuk. ”Untuk keperluan tersebut, akses ruas jalan tembus dimaksud sedikitnya akan melintasi lima perbukitan yang selama ini dikenal oleh warga sekitar, masih diliputi suasana mistis,”ujar salah seorang perangkat Desa di Kaliampo yang namanya minta disebut sebagai Wiwin

Untuk perbukitan pertama yang sedikit lebih jauh dari lokasi akses ruas jalan, oleh warga di desanya dikenal dengan ”bunuk” (bukit) Sombo. Tempat ini konon sempat menjadi ”bukit pandang” para prajurit Adipati Pati, Pragola I atau nama lain dari Wasis Joyokusumo saat mengawasi Baron Skeber yang ternyata membendung alur Kali Kedungtela yang berhulu di perbukitan Patiayam, untuk kungkum pada siang hari.

Dari ”bunuk” Sombo jika berjalan ke utara mengikuti jalan yang akan dibuat jalan tembus tersebut akan bertemu dengan satu ”bunuk” yang dikenal sebagai ”bunuk” Seno. Berikutnya semakin ke utara ada ”bunuk” Tumpeng, dan setelah mendekati atau sampai pertengahan jarak antara Kaliampo-Sukobubuk, ada dua ”bunuk” lagi, tapi dia lupa sebutannya yang konon juga disebut-sebut masih dalam keadaan ”sangar.”

Hal tersebut wajar, karena selama ini kawasan perbukitan Patiayam masih dalam kondisi belum bisa menerima kehadiran warga yang kepentingannya sengaja mencari hal-hal yang berkait dengan masalah yang gaib. ”Sedangkan selama ini, kita kenal Patiayam adalah sebagi pusat ditemukan tulang gajah purba yang dikenal sebagai balung buto (raksasa), dan kini disimpan di museum Patiayam, di Terban, Kecamatan Jekulo,Kudus,”imbuhnya.