Ratusan Anak di Pati Bisa Menabuh Gamelan; Hasil Gerakan Seniman Masuk Sekolah

0
225
Hasil garapan para seniman yang menjadi bagian dari program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), sekarang anak-anak usia SD dan SMP di Pati bisa menabuh gamelan.(Foto:SN/dok-aed)

SAMIN-NEWS.com, HASIL akhir tahapan proses Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di Pati, adalah persiapan menunjukkan hasil karya para seniman yang berbulan-bulan mengajak anak-anak usia SD dan SMP di Pati berkesenian. Program tersebut, merupakan terobosan yang diambil oleh pihak Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, sehingga anak-anak usia sekolah ini mulai mengenal kesenian sedikit lebih serius.

Sebab, banyak program garapan kesenian yang bisa diajarkan kepada mereka, dan semuanya adalah tergantung pilihan masing-masing. Karena Pati selama ini mempunyai ikon ketoprak, maka kesenian tersebut banyak menjadi objek garapan para seniman yang masuk dalam program GSMS Tahun 2021, dan kini sudah memasuki tahapan akhir untuk mempersiapkan pementasan.

Dari 65 alokasi sekolah yang menjadi sasaran gerakan program tersebut, 40 sekolah di antaranya anak-anak memilih untuk diajarkan seni pertunjukan ketoprak. Sedangkan 25 sekolah lainnya, ada yang mengambil musik, wayang kulit, tari, teater dan juga barongan kembali menggeliat melalui gerakan tersebut.

Akan tetapi sayangnya, dari  GSMS yang mendekati tahapan terakhir berupa pementasan untuk menguji kemampuan anak setelah berbulan-bulan berlatih, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, Paryanto, harus dimutasi ke tempat tugas baru. Dengan demikian, pengganti yang menangani tugas-tugas tersebut, baik kesenian maupun masalah kebudayaan menjadi tanggung jawab pejabat baru.

Anak-anak usia SD maupun SMP yang bisa menabuh gamelan justru murid perempuan.(Foto:SN/dok-aed)

Dengan demikian, pejabat baru penggantinya diharapkan bisa menindaklanjuti program GSMS dari Dirjen Kebudayaan. Sebab, jika pada tahapan berikutnya sampai program tersebut terputus maka kita akan kehilangan anak-anak yang sejak awal sudah berupaya bersama para seniman pembimbingnya, termasuk di antaranya mereka yang mulai bisa menabuh gamelan, di mana hal itu juga diikuti dengan pemahaman notasinya.

Mengingat, mereka ini belajar menabuh gamelan untuk mengiringi pertunjukan kesenian panggung ketoprak, maka mereka pun bisa menabuh gamelan untuk mengiringi seluruh pertunjukan ketoprak tersebut. Akan tetapi, untuk menguji kemampuan mereka lebih lanjut dalam upaya menabuh gamelan, lebih baik pihak Dirjen jangan hanya memutus atau mementaskan dalam mengiringi pertunjukan ketoprak saja.

Karena itu, usai pementasan hasil uji jerih payah para seniman ini perlu ditindaklanjuti lagi, utamanya adalah mereka yang menabuh gamelan. Sehingga alokasi pembiayaannya untuk ditambah, dan waktu berlatihnya juga diperpanjang, agar mereka benar-benar bisa memainkan gamelan dengan bekal hasil latihan yang semakin bertambah maksimal

Dari hasil itulah, tahap berikutnya anak-anak penabuh gamelan ini diuji lagi khusus menabuh gamelan secara bersama-sama atau secara serentak di salah sebuah lokasi, misalnya di pinggiran jalan seputaran Alun-alun Simpanglima. Jika itu hanya untuk 40 grup anak-anak penabuh gamelan, tempat itu masih mencupi tanpa harus mendirikan panggung melainkan lesehan di pinggir jalan.

Silahkan, pihak Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan atau Pemkab Pati memfasilitasi. Silahkan, pihak Pemkab pun menopangnya. Kalau berani, ya silahkan coba!!