Hari Ketiga GSMS: Menampilkan Pertunjukan Seni Tradisional Mandailing

0
96
Tampilan GSMS dari SDN 03 Tayu Wetan, Kecamatan Tayu, dalam kesenian tradisional khas Pati yang nyaris punah, ”Mandailing” (atas) dan pertunjukan seni ketoprak yang tampil paling akhir di hari ketiga tadi malam, dari SDN 01 Medani, Kecamatan Cluwak, Pati (bawah).(Foto:SN/dok-ed)

SAMIN-NEWS.com, HARI ketiga, Sabtu (30/Oktober) 2021 kemarin sudah 16 seniman dalam program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) menampilkan pertunjukan kesenian hasil pembelajaran kepada anak-anak di sekolah, baik SD maupun SMP. Tidak semua menyajikan tontonan kesenian tradisional ketoprak yang memang sudah menjadi khas Pati, tapi ada juga satu pertunjukan kesenian khas Pati lainnya yang bahkan nyaris punah karena jarang dipertontonkan di depan khalayak.

Kesenian tersebut tak lain, ”Mandailing” yang ditampilkan oleh GSMS dari SDN 03 Tayu Wetan, Kecamatan Tayu dengan membawakan cerita yang dari dahulu hingga sekarang selalu sama, yakni ”Kapal Kamarung”. Di mana, perjalanan sebuah kapal yang di dalamnya ada penumpang dari berbagai suku bangsa, baik Belanda seperti Sinyo dan Nonik, serta ada juga yang dari Arab, namanya Tuan Brahim kepanjangan dari Ibrahim.

Selain itu ada juga Jawa keturunan namanya Adam, sehingga terjadinya interaktif dalam perjalanan laut yang terlalu lama itu pun tak bisa dihindari. Di sinilah  tontonan kesenian tersebut dikemas dalam gerak dan lagu dengan iringan khas musik gambus, dan tak ketinggalan dalam dialog juga menggunakan pantun berbalas dengan memunculkan kelucuan khas masing-masing pemeran.

Apalagi, ditambah kostum yang memang ala komedian maka tontonan ini sebenarnya merupakan hiburan segar karena sejarah awal adanya kesenian tersebut sekitar Tahun 1960, di kawasan wilayah pesisir utara Kabupaten Pati. Utamanya, di kawasan Kecamatan Dukuhseti kemudian berkembang ke salatan ke Kecamatan Tayu, Margoyoso, Trangkil hingga ke Kacamatan Wedarijaksa.

Kendati upaya pengembangan kesenian tradisional tersebut tidak segegap gempita musik dangdut, tapi selama masih ada pihak-pihak yang tetap konsisten menggelar pertunjukannya, Mandailing tetap akan bisa bertahan meskipun segan tapi mati pun tak hendak. Dengan demikian, nasibnya tidak akan seperti kesenian tradisional lainnya, kentrung yang kini benar-benar sudah hilang dari peredarannya di Pati.

Dengan demikian, jika program GSMS ini masih terus berjalan berkesinambungan, maka para seniman setempat masih ada yang menaruh kepedulian untuk mengangkat pertunjukan seni musik terbang/rebana dengan penampil tungal ini kembali bisa dihadirkan di tengah-tengah masyarakat. Apalagi dalam ceritanya pun khas yang kadang-kadang disertai sindirian jika kurang mendapat perhatian dari pihak yang memberikan order, seperti ”lutung menek jambe sing ngentrung butuh ngombe.”

Terlepas dari hal tersebut, tapi itulah peran seniman dalam program GSMS masih sangat dibutuhkan agar generasi milenial dan anak-anak harapan bangsa ini paham akan seni budaya leluhurnya. Sedangkan  Minggu hari ini, pertunjukan hasil GSMS di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pati pun tidak libur, karena di hari keempat ditampilkan lagi empat pertunjukan kesenian tradisional ketoprak dan satu pertunjukan dolanan anak.

Untuk ketoprak, masing-masing dari GSMS SDN 01 Margorejo, Kecamatan Margorejo dengan menampilkan cerita ”Sirnaning Angkara Murka,” dilanjutkan dari SDN 02 Ngurensiti, Kecamatan Wedarijaksa dengan lakon ”Ronggolawe Gugur.” Berikutnya dilanjutkan dari GSMS SDN 02 Panggungroyom, Kecamatan Wedarijaksa menampilkan cerita ”Kebo Marcuet,” dari SDN 01 Tlogowungu menampilkan ”Dolanan Anak,” dan SMPN 3 Juwana kembali menampilkan ketoprak dengan cerita ”Raden Sahid”.