GSMS SMP Negeri 2 Margoyoso Besut Naskah Cerita Sendiri

0
97
Proses latihan gamelan pengiring untuk pertunjukan ketoprak GSMS SMP Negeri 2 Margoyoso yang membesut naskah cerita sendiri, ”Lutung Kembar Tiga.” (Foto:SN/dok-rul)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Sedikitnya ada sebelas SMP di Pati yang masuk dalam daftar program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di Pati, satu di antaranya SMP Negeri 2 Margoyoso yang juga menampilkan seni pertunjukan ketoprak. Bertindak sebagai pelatih dan juga sutradara, Arul Oktavian yang sekaligus pembesut sendiri naskah cerita yang akan dimainkan, yaitu ”Lutung Kembar Tiga.”

Dengan demikian, SMP yang bersangkutan pun memainkan cerita yang selama ini sudah dimainkan oleh banyak ketoprak profesional maupun ketoprak program GSMS, seperi Gajahmada, Haryo Penangsang Gugur, dan banyak cerita lainnya. Selebihnya, dalam penampilan hasil karya program itu untuk SMP yang bersangkutan juga tidak sama sekolah lainnya.

Satu di antaranya, papar Arul Oktavian, dalam pementasan nanti pihaknya akan menampilkan tari gambyong baru, di mana tarian itu berjudul ”Tari Gambyong Sekar Arum,” karya Prof Dr Rochana Widyastutieningrum S Kar MHum. ”Untuk melatih penarinya kami tangani sendiri, dan tari ini perdana dipentaskan di Pati dengan live musik,”ujarnya.

Berkait cerita ketoprak ”Lutung Kembar Tiga,” lanjutnya dituturkan, Ki Sabda Jati mempunyai sebuah pusaka ”Watu Kalimaya” yang tak boleh disentuh, apalagi digunakan orang lain. Suatu saat Ki Sabda Jati memerintahkan kedua putrinya Arumna dan Arumni, untuk membersihkan gedung pusaka. dengan pesan jangan menyentuh dan juga jangan membersihkan pusaka tersebut, karena jika sampai kamu lakukan ada bahaya yang mengancammu.

Akan tetapi, rasa penasaran atas pesan yang disampaikan ayahnya justru Arumna dan Arumni menyentuhnya, maka seketika keluarlah sosok bayangan pria gagah perkasa di atas pusa Watu Kalimaya itu. Ternyata bayangan tersebut membuat keduanya menjadi tergila-gila, dan bahkan sampai jatuh cinta, dan perbutan mereka itu akhirnya diketahui oleh ayahnya sehingga membuat Ki Sabda Jati marah besar.

Karena itu disabdalah kedua putrinya itu sehingga berubah menjadi tua, tapi sebaliknya Ki Sabda Jati justru berubah menjadi buta. Dalam kesempatan di tengah-tengah mencari jodoh pada bayangan tersebut, mereka bertemu dua orang pemuda tampan yang sosoknya sama dengan bayangan di atas pusaka Watu Kalimaya, tapi kedua pemuda Wirono dan Wiroto itu menjadi terganggu atas pernyataan kedua mereka tersebut yang jatuh cinta kepadanya.

Kedua pemuda itu bersedia menerima cinta nenek-nenek itu dengan syarat, asal bisa mendapatkan lutung yang bisa berbicara, maka kedua nenek itu pun mampu mengubah diri menjadi dua ekor lutung, dan Ki Sabda Jati mendengar hal itu juga mengubah diri menjadi lutung pula, maka berkumpul tiga ekor lutung. Pendek cerita, hal itu berpesan bahwa siapa pun yang namanya anak-anak janganlah berani melanggar atau mengabaikan perintah orang tua, dan selalu berbaktilah kepadanya.