Buruk Muka Membawa Bahagia; GSMS di SD Negeri 01 Gunungwungkal

0
67
Kendati masih terlalu kecil tapi dalam menabuh gamelan pengiring seni pertunjukan ketoprak GSMS SD 01 Gunungwungkal, cukup mantap.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Cerita aslinya adalah Joko Kendil, Si ”Buruk Muka” dengan cacat fisik bawaan sejak lahir, menjadi pilihan dalam Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Tahun 2021, di SD Negeri 01 Gunungwungkal. Proses pertemuan dalam berlatih anak-anak ini bermain seni pertunjukan ketoprak masih ada beberapa kali sebelum berlangsungnya pementasan yang dijadwalkan mulai 28 Oktober s/d 9 November mendatang.

Dengan demikian, akhir-akhir ini di bawah pelatihnya, seniman ketoprak, Sudarman dan penabuh gamelan Yono, mereka masih terus memperdalam kemampuan, baik bagi anak-anak yang bertugas menabuh gamelan maupun yang berlatih ketoprak. Bahkan, jadwal latihan yang semula dijadwalkan sepekan dua kali sekarang ditambah menjadi tiga kali dengan harapan saat penampilan nanti anak-anak ini bisa lebih maksimal.

Adapun cerita dalam pementasan ketoprak tersebut, papar pelatihnya Sudarman adalah ”Joko Kendil” yang tampaknya juga dibawakan oleh sekolah lain, di antaranya SD Negeri 02 Ngemplak Kidul, Kecamatan Margoyoso dan SMP Negeri 1 Margorejo. ”Untuk anak-anak kami, mengambil cerita tersebut dengan serial ”Cahyo Purnomo Ngratu,” mengingat waktu pementasan maksimal hanya dua jam,”ujarnya.

Adegan dalam cerita ”Joko Kendil” saat anak-anak SD 01 Gunungwungkal berlatih ketoprak GSMS, di bawah asuhan pelatih Sudarman.(Foto:SN/aed)

Dalam cerita episode tersebut dituturkan, Raja Parang Kencana, Manikmaya mempunyai tiga putri yang sudah cukup usia untuk menikah atau dipersunting oleh lelaki, tapi setiap kali dipinang oleh ”Bupati Sewu Negara,” ketiganya selalu menolak. Akhirnya Raja menyelenggarakan sayembara memanah, sehingga bagi yang bisa memanah tepat sasaran akan dijodohkan dengan salah satu putri pertamanya maupun kedua adiknya.

Akan tetapi, tidak ada satu pun di antara peserta sayembara itu ada yang berhasil sehingga kali terakhir tampil ”Si Buruk Muka”, Jaka Kendil yang sebenarnya sudah mengenal putri bungsu Raja Parang Kencana. Pertermuan terjadi ketika Jaka Kendil sedang menggembalakan kambing-kambingnya tak jauh dari sendang, tapi ada suara perempuan menangis, dan ketika didatangi putri raja itu kehilangan ”sangsang” (kalung) identitas sebagai putri raja.

Dengan keberhasilan Jaka Kendil dalam sayembara memanah, akhirnya putri bungsu raja itu bersedia dipersunting, sehingga dalam kesempatan berada di taman kaputren seperti dijanjijakan oleh dewa dari khyangan, sudah saatnya Jaka Kendil berubah menjadi satria bagus yang gagah perkasa. Sebab, dia sebenarnya sejak lahir dalam keadaan cacat, sehingga putra Raja Sindunegara dari Kerajaan Purwocarita yang dititipkan kepada Pak Kromo, warga Desa Gedangan.

Selesai pesta pernikahan Joko Kendil yang sudah berubah nama menjadi Cahyo Purnama, maka tidak lama kemudian akhirnya menerima penyerahan tahta sebagai pengganti ayah mertuanya. Raja dari Parangkencana. Itulah Joko Kendil yang sebelumnya adalah pemuda buruk rupa, tapi karena kehendak Yang Maha Kuasa, akhirnya menemukan kebahagiannya menjadi seorang raja.