Barongan GSMS SD Negeri 01 Dadirejo

0
96
Seniman bersama guru SD Negeri 01 Dadirejo, Kecamatan Margorejo, Pati saling bahu membahu menyemangati anak didiknya penabuh gamelan pengiring kesenian barongan dalam Gerakan Seniman Masuk Saekolah (GSMS), agar jangan sampai keliru.(Foto:Sn/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Satu lagi dalam Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Tahun 2021 di Pati. SD Negeri 01 Dadirejo, Kecamatan Margorejo, Pati, mengusung pertunjukan seni tradional barongan. Dengan  demikian, dipastikan nanti ada tiga seni pertunjukan tersebut yang akan ikut ambil bagian dalam program itu, seperti lainnya adalah SD Negeri 02 Sunggingwarno, Kecamatan Gabus, dan satu lagi SD 05 Trangkil, Kecamatan Trangkil.

Untuk SD 01 Dadirejo, memilih seni pertunjukan itu karena mempunyai fasilitas barongan beserta kelengkapan lainnya kecuali gamelan pengiring dari Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Karena itu, seniman GSMS yang diterjunkan ke sekelolah tersebut, yaitu Sugeng, seniman barongan, asal Plangitan, Kecamatan Pati.

Dalam kesempatan berlatih dengan anak-anak di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pati, Rabu (13/Oktober) hari ini juga sekaligus bisa mencoba arena panggung yang nanti sebagai tempat digelarnya hasil GSMS secara virtual. ”Dengan demikian, anak-anak sekaligus dituntut mempunyai kesadaran panggung, seperti pemain barongannya, dan pemain pendukung yang semua memakai topeng kecuali yang memainkan jaran kepang, atau jaran eblek,”ujarnya.

Seni pertunjukan barongan GSMS SD Negeri 01 Dadirejo, Kecamatan Margorejo dengan cerita ”Sumingkiring Betara Kala,” saat berlatih di panggung SKB, Rabu (13/Oktober) hari ini.(Foto:SN/aed)

Dengan kata lain, lanjut Sugeng, kecuali yang memainkan barongan dan juga pemain topeng berbagai bentuk makhluk lain, hanya pemain jaran eblek yang mukanya tanpa penutup sehingga masih bisa melihat batas area panggung yang digunakan untuk bermain. Sedangkan cerita dalam pertunjukan barongan yang dimainkan anak-anak, adalah ”Sumingkiring Betara Kala,” yang menuturkan tampilnya seorang Joko Ludro bersama pengikutnya Entid saat harus mencegah Betara Kala hendak memangsa/memakan atau juga sebagai ”tadah kalamangsa-”nya.

Sedangkan bocah dimaksud, yaitu anak tunggal atau disebut ”ontang-anting”, ”kedana-kedini,” ”julungwangi,” dan seterusnya dengan pertanda ”naga dina,” ”naga sasi,” dan ”naga tahun” jadi pertanda sebagai tempat sasarannya, maka jangan sampai mendekat tempat yang menjadi jalannya. Dengan demikian anak tersebut harus diruwat dan dibuang kesialan (sukerta)-nya dengan tetap meminta kepada Sang Maha Kuasa.

Para pemain jaran eblek ini adalah putra peserta program GSMS SD Negeri 01 Dadirejo, Kecamatan Margorejo.(Foto:SN/aed)

Tentang siapa itu ”Batara Kala,” di kalangan masyarakat Jawa  masih dipercaya bahwa tokoh tersebut adalah raksasa besar, tapi bisa mengubah wujud apa saja yang senang memangsa orang yang disebut sudah menjadi jatahnya atau ”tadah kala mangsa,” seperti anak yang lahir bersamaan dengan terbit maupun tenggelamnya matahari. Anak ini disebut sebagai ”julu wangi”, juga anak ”ontang-anting,” serta anak ”kedana-kedini.”

Sedangkan Betara Kala itu sebenarnya anak Betara Guru dengan istrinya Dewi Uma terlahir ketika kedua orang tuanya sedang melanglang buwana naik Lembu Andini, dan dalam kesempatan itu Betara Guru dan Dewi Uma perilakuknya seperti raksasa, dan hamillah Dewi Uma yang juga sudah berubah menjadi rakseksi, yaitu Bethari Durga. Sehingga ketika Bethara Kala lahir dan dalam wujud raksasa, juga menikah dengan bethari Durga, atau terjadi pernikahan sedarah yang tabu untuk dilakukan oleh manusia.