Orang Tua Murid di Kedalon Bangga, Anaknya Bisa Bermain Ketoprak dan Menabuh Gamelan

0
135
Adegan pertarungan Adipati Pati Wasis Joyokusumo (Pragola I) (kiri) dengan Baron Skeber (kanan) dalam cerita ”Baron Skeber” (Geger Patiayam) (atas) dan perseteruan antarwarga Kaliampo dan Jambean Kidul karena salah paham, mengira warga Kaliampo yang membenduang air di alur Kali Telo (bawah).

SAMIN-NEWS.com, PATI -Ditetapkan sebagai sekolah yang harus menerima program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), baru sekitar satu bulan lalu saat kondisi Pati dalam pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari level 3 turun ke level 2. Akan tetapi, dasar murid-murid SD Negeri Kedalon 02, Kecamatan Batangan, benar-benar serius menekuni kesenian yang menjadi pilihan, maka dalam waktu relatif singkat sudah mulai tampak hasilnya.

Paling tidak, bagi mereka yang memilih untuk menabuh gamelan baik putra maupun putri, ternyata saat ini atau setelah berlatih sepekan dua kali, Rabu dan Sabtu di bawah asuhan serta  bimbingan seniman Tewel, mereka ini sudah mulai bisa mengiringi gamelan ketoprak. Demikian pula yang harus bermain ketoprak yang ditangani Wawan dari Laras Budoyo, dan pelatih laga Puput juga dari grup ketoprak yang sama, sekarang juga mulai menampkan kemampuan mereka dalam berakting dan juga menghafal naskah.

Karena itu tak mengherankan, jika melihat kondisi anak-anak yang begitu serius berlatih kesenian, kini paling tidak membanggakan bagi para orang tua murid dan juga pihak sekolah. ”Bahkan Pak Kepala Sekolah dan juga guru pembimbing setiap anak-anak berlatih pasti menyempatkan diri untuk menunggui jika tidak ada kesibukan lain,” ujar pelatih yang bersangkutan, Nirwan Basuki yang akrab dusapa Wawan Laras Budoyo itu.

Para penabuh gamelan cilik yang ternyata sudah bisa mengiringi pertunjukan ketoprak untuk program Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di SD Negeri 02 Kedalon, Kecamatan Batangan (atas) dan ibu-ibu ini rela meskipun harus mengintip dari balik kaca jendela ruang untuk berlatih yang penting senang melihat putra-putrinya bisa menabuh gamelan dan main ketoprak.

Tidak hanya itu, lanjut Wawan, pihak pemerintahan desa juga mendukung adanya kegiatan anak-anak berlatih gamelan dan juga ketoprak selama masa pandemi Covid-19. Harapnnya, agar anak-anak ini tidak dilepas begitu saja setelah selesai pementasan, untuk menunjukkan karya kepelatihan dari para seniman yang menurut rencana dijadwalkan Oktober 2021 mendatang.

Akan tetapi, usai tersebut mereka tetap diaktifkan kembali dalam berlatih baik gamelan pengiringnya maupun seni pertunjukan ketopraknya. Hal itu bisa menjadi bagian dari ekstra kulikuler, sehingga pihak sekolah bersama orang tua murid dan pemerintahan desa bisa mengundang pelatih, untuk membimbing mereka.

Dengan mempunyai grup penabuh gamelan cilik, dan  juga grup ketopraknya maka bila desa atau warga punya hajat ketimbang menghadirkan tontonan tersebut, tentu mahal biayanya, maka anak-anak sudah bisa diajak menghibur masyarakat dalam acara hajatan. ”Jika mereka saat ini berlatih menabuh gamelan dan bermain ketoprak, buka berarti nanti mereka harus menjadi penabuh gamelan dan pemain ketoprak,” tandasnya.