Melihat Anak Cucu Berlatih Ketoprak Cukup Menghibur

0
240
Kendati harus duduk di lantai, tapi nenek-nenek warga Ngulakan, Desa Sukoharjo, Kecmatan Wedarijaksa ini cukup terhibur melihat cucu-cunya, murid SD Negeri 03 setempat berlatih gamelan dan ketoprak program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS).(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – DUA periode pemerintahan desa/kelurahan di Kabupaten Pati hanya menyelenggarakan ritual tradisi sedekah bumi sebagai ”syarat,” maka pelaksanaannya pun sekadarnya. Dengan demikian, jika dalam penyelenggaraannya diikuti  hiburan, baik kesenian ketoprak, wayang, barongan dan juga tayub, semua itu tak lebih hanya memenuhi bagian terkecil dari tradisi itu.

Semua itu harus dilakukan mengingat berlangsungnya masa pandemi Covid-19, sehingga upaya menghindarkan terjadinya kerumunan dalam bentuk apa pun tetap tidak boleh diselenggarakan. Mengingat hal tersebut, maka yang namanya penyelengaraan tontonan sebagai hiburan masyarakat sampai sekarang juga belum boleh diselenggarakan, lebih-lebih tontonon ketoprak yang sudah menjadi ciri khas acara sedekah bumi.

Karena itu, begitu belakangan ini jika tiap Senin siang dari SD Negeri 03 Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa terdengar bunyi gamelan ditabuh, dan seiring dengan bunyi pukulan keprak, maka hal tersebut mengundang warga untuk berdatangan. ”Kebanyakan nenek dan ibu-ibu itu cukup terhibur meskipun hanya sekadar melihat anak-anak dan cucunya berlatih menabuh gamelan dan bermain ketoprak,”ujar pelatihnya, Nirwan Basuki yang akrab disapa Wawan ”Laras Budoyo.”

Salah satu adegan dalam besutan cerita Wijaya Ngratu saat Raden Wijaya bertemu kembali dengan istrinya, Gayatri yang diselamatkan Ronggo Lawe, dibawa lari ke Sumenep, Madura (atas). Jayakatwang yang berhasil menyerang Singosari, mengumpulkan para prajuritnya berpesta (bawah).(Foto:SN/aed)

Ternyata, lanjutnya, jadwal berlatih anak-anak pada siang hari itu sudah lama menjadi hiburan warga yang tampaknya memang sudah lama haus hiburan tontonan. Apalagi, lokasi SD Negeri 03 itu berada di lingkungan permukiman warga, sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh meninggalkan rumah, tapi sudah bisa melihat anak-anak dan cucunya berlatih.

Responsnya para orang tua, hal itu barang kali mereka pun berharap agar anak-anak tersebut  bisa membuat tontonan yang menghibur, terutama mereka yang senang menonton pertunjukan ketoprak bila ada orang punya hajat dan juga acara sedekah bumi. Terlepas dari hal tersebut, paling tidak program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) dari  Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan  dan Kebudayaan Kabupaten Pati, sekecil apa pun bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Pelatih Wawan Laras Budoyo, saat memberikan contoh adegan membaca surat dalam suasana pesta kepada pemeran Prabu Jayakatwang.(Foto:SN/aed)

Paling tidak, tambah dia, meskipun yang sedang dilatih adalah anak-nak yang baru duduk di bangku Kelas V, tapi mereka nanti sudah mempunyai sedikit pengalaman memainkan sebuah tontonan yang bukan berarti harus menjadi seniman profesional. ”Karena itu, kami mempunyai tanggung jawab kepada anak-anak agar lebih mengenal seni-budaya yang sudah cukup terkenal dari Pati,”tandasnya.