Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tunggui Pengambilan Gambar GSMS untuk Jingle Nasional

0
705
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, Winarto SPd MHUm.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di Kabupaten Pati, saat ini adalah memasuki tahap akhir dalam membesut karya-karyanya yang diberikan  kepada para peserta didik dari kalangan murid sekolah dasar (SD) maupun SMP. Karena itu, mulai Rabu (29/September) 2021 Tim dari Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berada di Pati.

Karena dalam kesempatan tersebut atau saat mengunjungi SMP 3 Juwana, untuk melakukan pengambilan gambar jingle nasional  pihaknya tidak bisa menyertai, maka hal tersebut baru bisa dilakukan malam harinya, atau semalam. Sebab, tim tersebut semalam juga melakukan hal sama di Alun-alun Simpanglima Pati.

Berkait dengan hadirnya program GSMS di Pati, paparnya, hal tersebut tentu mempunyai nilai lebih karena yang pertama, minimal para seniman dituntut terus berkarya kendati di tengah-tengah masa pandemi Covid-19. Sedangkan sasaran garapannya, kebanyakan adalah murid-murid SD yang besar kemungkinan baru kali bertama diajak berlatih menabuh gamelan, sehingga mereka memang benar-benar berangkat dari pamahaman nol.

Kendati demikian, dari hasil karya para seniman dalam menggembleng anak-anak ternyata kini mulai menampakkan hasil. ”Hal tersebut tampaknya yang menjadi pertimbangan pihak Dirjen Kebudayaan menerjunkan timnya untuk mengecek hasil proses pelatihan, kemudian dilakukan pengambilan gambar sebagai jingle nasional,”ujarnya.

Para penabuh gamelan dari SMP Negeri 2 Margoyoso (atas) dan penabuh gamelan anak-anak dari SMP Negeri 3 Juwana dengan pengambilan gamar untuk jingle dilakukan di Alun-alun Simpanglima Pati semalam.(Foto:SN/aed)

Terlepas dari hal tersebut, lanjutnya, dari hasil gerakan para seniman yang langsung menyentuh anak-anak, maka paling tidak ada bagian dari proses pelatihan selama ini yang nantinya tetap akan membekas di benak dan sanubari masing-masing. Sebab, tidak hanya anak-anak yang sudah mulai mengenal dan membaca notasi gamelan tapi juga sudah mulai bisa memainkan.

Demikian pula, bagi anak-anak yang mulai mengenal bagaimana sulitnya berlatih untuk bermain kesenian panggung yang namanya ketoprak. Paling tidak, mereka juga akan menjadikan tontonan ini sebagai tuntunan untuk mengharga diri sendiri dan menghormati orang lain yang disebut ”unggah-ungguh”.

Tampilan hasil GSMS untuk SD Sekarjalak, Kecamatan Margoyoso yang memainkan perpaduan musik rebana dan juga angklung.(Foto:SN/aed)

Dengan kata lain, dalam mengikuti program latihan oleh GSMS maka secara tidak langsung anak-anak ini mendapat pembelajaran dalam hal olah rasa, sehingga benar-benar akan bisa menghargai kepekaan yang dimiliki. Yakni, kepekaan untuk menghargai terhadap orang-orang yang dari sisi umur lebih tua darinya yang selama ini, hal tersebut bukan suatu hal yang penting.

Paling tidak, mereka akan lebih menghargai kondisi budaya para leluhurnya di mana untuk bermain gamelan sudah diminati oleh bangsa mancanegara. ”Karena itu, kepada anak-anak melalui GSMS ini agar rasa mencintai seni budaya sendiri lebih perlu ditanamkan lagi dengan melibatkannya untuk ikut bermain secara langsung,”imbuhnya.