Peringatan Hari Jadi Pati Hanya Terima ”Kado Biasa”

0
50
Megumandangkan adzan sebelum peti jenazah dimasukkan ke dalam lubang makam selalu bisa kita lihat saat pemakaman jenazah standar protokol Covid-19 (atas). Hadirnya personel Babinsa dan Bhabinkambmas dari Koramil dan Polsek setempat juga tak ketinggalan (bawah).(Foto:SN/dok-aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Pada peringatan Hari Jadi Ke-698 Pati, di tengah-tengah masa pandemi Covid-19 Sabtu (7/Agustus) 2021 kemarin, ternyata belum ada pemberian ”kado istimewa” melainkan masih ”kado biasa.” Sebab, sampai kemarin Pati masih belum bisa terbebas dari warga yang meninggal dan harus dimakamkan standar protokol Covid-19.

Kendati demikian, warga di Bumi Mina Tani ini tetap harus bersyukur karena jenazah warga yang meninggal dan harus dimakamkan standar protokol tersebut jumlahnya berlebihan atau di luar batas kewajaran, melainkan cukup satu saja. Barangkali datangnya pemberian ”kado istimewa” tersebut akan tiba saatnya,  saat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI memperingati Ke-76 tahun kemerdekaannya, Selasa (17 Agustus) mendatang.

Paling tidak, dengan hanya terjadi sekali kematian warga saat pada peringatan Hari Jadi Pati, Sabtu kemarin, papar Koordinator Tim Pemakaman Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, Khayun Fulanun, hal itu sudah memberikan sinyal atau indikasi akan berakhirnya masa pandemi. ”Apalagi, dari sisi zonasi bahwa Pati saat ini sudah memasuki zona oranye karena sebaran Covid-19 sudah melandai,”ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, meskipun dalam mengahadapi situasi pandemi ini Pati sempat terseok-seok tapi sekarang mulai menampakkan hasil maksimal setelah masa pandemi berlangsung satu setengah tahun. Hal tersebut, bukti keberhasilan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat, sehingga hal itu tetap harus lebih ditingkatkan lagi karena masa pandemi sampai sekarang belum berakhir.

Belum adanya ”kado istimewa” Pati terbebas dari pemakaman jenazah standar protokol Covid-19, karena sampai kemarin masih ada pemakaman satu jenazah, yaitu warga Desa Wuwur, Kecamatan Gabus, tapi timnya tidak merasa melakukan pemakaman tersebut. ”Barangkali, pemakaman oleh tim pemakaman desa yang bersangkutan, sehingga hal itu sudah benar-benar hasil kerja maksimal dalam menghadapi masa pandemi,”imbuhnya.

Di sisi lain, salah seorang anggota tim yang awalnya sering berkomentar, Purnama pun ikut nyeletuk, kapan kita bisa joging pagi bersama tentu setelah tugas-tugas pemakaman  selesai. ”Tapi kalau bisa mempunyai seragam tetap sebagai tim burial/pemakaman, sehingga butuh sepatu dan pakaian olahraga, tapi itu harganya tentu mahal,”selorohnya.