Juwana di Masa Mbah Sabarun, Ada Apa ?

0
186
Raden Samudi, juru kunci Makam Astana Jatisari tempat disemayamkannya para Penggede Juwana, termasuk salah satu tokoh yang juga cukup dikenal. Mbah Sabarun, di Desa Growong Kidul, Kecamatan Juwana.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Salah satu tokoh Senopati Perang Gerilya melawan VOC/Belanda di Juwana, adalah Mbah Sabarun yang punya nama asli Raden Suryo. Lahir dari perkawinan seorang ibu di Tuban, dan saat berada di Juwana bertempat tinggal di Wetan (timur) alur Kali Juwana yang disebut juga Bengawan Silugonggo, atau tepatnya sekarang di wilayah Desa Jepuro.

Dengan demikian, untuk menuju ke Juwana pun tidak hal sulit karena bisa melintas sebuah jembatan yang dibangun pemerintah kolonial. Tepatya, antara Desa Bumirejo dan Doropayung, di mana untuk desa yang disebut terakhir kala itu merupakan pusat pemerintahan oleh para Bupati pada masanya, termasuk salah satu di antaranya adalah Bupati Juwana, Raden Tumenggung Mangkuprojo (1798 – 1800 M.

Pada masa itu, Mbah Sabarun atau Raden Suryo yang kemudian oleh pamannya Hendro Kusumo atau sampai sekarang disebut akrab sebagai Mbah Hendro juga ditambahkan Kusumo menjadi Raden Suryo Kusumo. Sampai kedudukan Bupati Juwana digantikan Kyai Mas Tumenggung Mangkudipuro I atas Mas Ngabei Kromodipuro (1800-1823), Mbah Sabarun tak pernah berhenti mengobarkan perang gerilya atau perang tertutup melawan Mataram dan VOC.

Hal tersebut dibenarkan seorang juru kunci Makam Astana Jatisari tempat disemayamkannya para Adipati Juwana bersama para pengikutnya, Raden Samudi. ”Sehingga tidak benar, kalau Juwana disebut-sebut pro kepada Mataram dan kolonial, tapi para penggdenya memang sepintas tampak seperti itu, untuk menghindarkan agar rakyat tidak menjadi sasaran kekerasan para penjajah,” tandasnya.

Punden Mbah Sabarun di lingkungan halaman belakang (sekarang) Kantor Kecamatan Juwana yang disebut-sebut sebagai tempat ”muksa-” nya sukma tokoh tersebut.

Apalagi, lanjut dia, pada masa itu perang terhadap Mataram dan VOC di juwana tak pernah kendor, sehingga para penguasanya, yaitu Bupati memilih bersikap seperti mendukung VOC/Belanda. Akan tetapi Mbah Sabarun bersama para prajuritnya tersebut terus melakukan perlawanan bersama salah seorang temannya, Mbah Dul Munawar.

Berulang kali prajurit Mbah Sabarun menggempur benteng pertahanan Belanda di pinggir alur Kali Juwana, di mana lokasi sekarang merupakan tempat berdirinya SMP 1 setempat. Berulang kali Mbah Sabarun sering jadi sasaran berondongan peluru musuh, tapi begitu kelihatan sudah tewas dan dibawa Mbah Dul Munawar, asal sudah digebyur air sumur kembali hidup lagi.

Para musuh memang tidak mengetahui, jika Mbah Sabarun memang mempunyai aji-aji kesaktian, yaitu Rawa Rontek. Sampai akhirnya Mbah Sabarun berhasil dikepung ramai-ramai oleh tentara musuh, di bawah pohon asam besar di Dukuh Kincir, masuk Desa Langgenharjo, kemudian dibawa ramai-ramai ke dalam lingkungan Kabupaten Juwana, untuk dipenjarakan oleh pemerintah kolonial.

Lamanya Mbah Sabarun dipenjara memang hanya selama 3,5 bulan, tapi selama itu tidak pernah diberi makan maupun minum. ”Dalam kondisi itu, ternyata Mbah Sabarun tidak meninggal, dan tetap mampu bertahan, sehingga Belanda semakin kehabisan akal,” paparnya.

Bagian kepala Mbah Sabarun yang dipenggal saat menjalani hukum gantung di lingkungan pemerintahan Kabupaten Juwana, di Desa Doropayung, dan ditanam di lingkungan makam para Bupati Juwana, di Desa Growong Kidul.

Karena itu, masih tutur Raden Samudi, akhirnya Belanda kehabisan kesabaran, dan begitu tubuh Mbah Sabarun masih digantung di sebuah pohon Pule, berikutnya akan dipenggal kepalanya. Kendati Bupati Mangkudipuro tidak keberatan, tapi mengajukan syarat di mana kepala Mbah Sabarun tetap akan dimakamkan seperti memakamkan jenazah seorang yang meninggal biasa.

Syarat dan permintaan Bupati Mangkudipuro dipenuhi oleh pihak Belanda, sehingga bagian kepala itu secara fisik dikuburkan di lingkungan makam Bupati. Tepatnya di sebelah timur makam Bupati Mangkudipuro II, karena bagimana pun juga dalam pergaulan Mbah Sabarun dengan Bupati Juwana Mangkudipuro I, menyebutnya sebagai paman.

Sementara itu, untuk bagian tubuhnya oleh Belanda akhirnya dibuang ke laut sehingga lokasi yang dsebut sebagai punden tempat muksa-nya sukma Mbah Sabarun yang meninggal di lingkungan Kabupaten Juwana, dan bagian kepala terpisah, maka ada yang menyebutnya bahwa beliau itu sebagai jelmaan jin. Kendati Mbah Sabarun atau Raden Suryo Kusumo telah meninggal, tapi perang melawan Belanda dan Mataram terus berkobar.

Dengan kondisi tersebut, maka melalui bujuk rayu Belanda secara halus kepada Bupati Mangkudipuro III (1852-1886) dan  juga persetujuan Bupati Pati Tjondro Negoro, maka trah Bupati Juwa Mangkudipuro pun diputus. Sebagai gantinya adalah Kanjeng Raden Haryo Condro Hadiningrat (1886-1895) M dengan sebutan nama lainnya, yaituTombronegoro.

Itulah babak terakhir  pemerintahan Kabupaten Juwana, atau setelah Bupati ke-13 menyusul menyusul Kabupaten dipindahakan ke Pati. Sejak saat itu (1895-1902) Juwana menjadi Pemerintahan ”Patih/Wedana”/Pemerintahan Distrik Regent/setingkat Kabupaten yang dijabat oleh Raden Suryodipuro.

Berikutnya, Tahun 1902-1980  Juwana pindah status menjadi Distrik/Kawedanan, dan Tahun 1980 sampai sekarang Kabupaten Juwana, menjadi Pemerintahan Kecamatan. ”Kendati status pemerintahan Juwana adalah kecamatan, tapi dalam sejarah berhasil melahirkan dua orang Bupati yang masing-masing memerintah sampai dua periode hingga sekarang.

”Masing-masing selain Pak Tasiman (alm) juga Pak Haryanto, dan akan menyusul juga periode 2024-2025  Bupati Pati tetap dari wilayah  timur, atau timur Kali Juwana. Semua itu adalah pengulangan sejarah masa lalu. seperti ada Bupati Juwana Mangkudipuro I, II, dan III,” imbuh Raden Samudi.