Dinar dan Kita yang Hampir Gila di Negeri ini

0
11

DINAR Candy, artis yang begitu terkenal dengan image seksinya, terpaksa harus diamankan oleh pihak berwajib, Kamis (6/8) kemarin. Ia ditangkap lantaran aksinya yang memprotes perpanjangan PPKM dengan memakai bikini di tepi jalan.

Yang menjadi menarik, saat itu Dinar berdiri dengan memegangi karton bertuliskan “Saya stres karena PPKM diperpanjang”.

Setelah melakukan aksinya, ia pun diamankan pihak berwajib dengan alasan Indonesia adalah negara Pancasila dan negara dengan norma agama.

Seperti biasa, kasus ini pun menjadi pro-kontra seperti hal-hal viral lainnya. Sebagian mendukung polisi, sebagian lagi justru mendukung aksi Dinar tersebut.

Pertanyaannya, benarkah Dinar meresahkan dan melampaui batas kepantasan?

Benar, ia memang meresahkan bagi sebagian orang, khususnya warga Indonesia yang selama ini begitu menjunjung tinggi adat ketimuran.

Meski begitu, kita tentu perlu sedikit memaklumi apa yang dilakukan Dinar Candy.

Jadi seperti ini, dalam hal ini Dinar justru seolah mewakili banyak orang yang stres karena pandemi. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Tidak sedikit pengusaha yang gulung tikar. Jutaan orang bingung untuk mencari makan.

Dalam kondisi seperti ini, intelegensi terkadang memang tak begitu dapat diandalkan. Sebab dalam kondisi ini kita seringkali dikendalikan oleh bagian otak yang berhubungan dengan insting mempertahankan diri. Atau sekadar mengungkapkan putus asa dan frustrasi.

Dinar Candy tidak sendiri. Di Bandung, ketua asosiasi kafe dan restoran (AKAR) Jawa Barat, mencoba bunuh diri.

Sebelum melakukan itu, ia mengungkapkan rasa frustrasi. Ia merasa tidak sanggup mengemban amanah untuk memperjuangkan aspirasi para pengusaha restoran dan kafe, yang sangat terdampak perpanjangan PPKM.

Meski begitu, apakah aksi Dinar Candy dan percobaan bunuh diri tersebut bisa dibenarkan?

Saya yakin jawabannya jelas tidak. Bagaimana pun juga kedua hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dianggap benar dari perspektif hukum maupun norma sosial.

Akan tetapi, dengan ini kita tentu bisa mengertu bagaimana kondisi psikologi masyarakat Indonesia di tengah masa yang serba sulit seperti ini.

Pedagang kaki lima, buruh harian, pedagang keliling, bengkel, tukang jahit, rakyat yang bekerja di sektor informal, termasuk di antara mereka yang begitu menjerit di tengah pandemi Covid-19.

Singkat kata, meskipun kita memang tidak memakai bikini ataupun bunuh diri. lantas aoakah kita memang baik-baik saja dan jauh dari kata gila? Saya yakin, kita memang hampir gila.