Selarik Doa Penyintas Corona

0
9

SEBAGAI seseorang yang sempat dinyatakan positif Covid-19 beserta istri yang sedang hamil dan orang tua yang komorbid, saat menjalani isolasi saya ingat betul bagaimana saya harus pasrah dengan dan ikhlas menerima takdir mengenai virus corona.

Satu persatu sanak saudara terpapar virus corona, bahkan ada pula yang pada akhirnya terpaksa harus meninggalkan dunia yang fana ini. Karenanya, tentu saat ini taka da lagi alasan bagi saya untuk takabur merasa paling kebal bahkan tak mempercayai virus corona.

Pagebluk Corona menyadarkan saya bahwa diri saya hanya manusia biasa nun jauh dari kesempurnaan maka sama sekali tidak berdaya menentang takdir sebagai kehendak Yang Maha Kuasa. Memang untuk sementara saya masih bisa bertahan hidup namun kenyataan itu sepenuhnya semata berkat kemurahan hati Yang Maha Kuasa.

Keadaan ini secara tidak langsung menyadarkan saya pula mengenai bagaimana harus bersyukur. Meskipun saya sekeluarga terkonfirmasi positif, beruntung saya cukup memiliki pengetahuan tentang bagaimana seharusnya kami bertindak setelah mengetahui terpapar corona.

Sebab, diluar sana tentu banyak keluarga dengan keadaan serupa yang harus kebingungan tatkala mereka terindikasi corona. Dari berbagai cerita, kebanyakan dari mereka bahkan tidak mampu memberanikan diri untuk berobat karena takut divonis corona.

Bukan menyalahkan, namun nyatanya hingga saat ini masih banyak warga diluar sana yang sudah memiliki berbagai gejala namun enggan untuk periksa. Dalam hal ini edukasi dan peran pemerintah pusat, daerah, dan desa tentu sangat dipertanyakan dalam mengatasi berbagai fenomena yang semakin memperparah keadaan.

Meskipun begitu, kita tentu tak boleh berhenti untuk senantiasa berdoa dan berpegang pada sebuah pengharapan agar pandemic Covid-19 ini segara berakhir. Ya, hingga saat ini yang kita punya memang hanyalah doa dan pengharapan.