Ngeri Pandemi Mengancam Masa Depan Bayi

0
48

BEBERAPA minggu terakhir, kita benar didera habis-habisan oleh pandemi Covid-19 yang grafiknya kian hari kian menambah kengerian. Berbagai headline media juga tak habis-habisnya memberitakan tentang lonjakan kasus yang tiada hentinya.

Istilah tracing atau merunut kontak erat rasanya juga kian begitu sulit ditegakkan. Kluster-kluster dari kelompok kerumunan perlahan menjelma menjadi kluster keluarga.

Tanpa mengenal ampun anak dibawah umur hingga bayi yang masih menyusu ASI eksklusif pun menjadi korban penularan orang dewasa yang dengan percaya diri merasa “baik-baik saja”.

Banyak orangtua panik mengetahui anak-anaknya terjangkit dan bingung harus berbuat apa. Amat menular sekaligus berisiko fatal membuat berbagai informasi dunia maya kian ricuh seriuh geliat kesempatan berdagang mengambil momen yang pas.

Dalam kalutnya pandemi, semua orang cenderung bertransformasi menjadi seorang yang individualistik di saat pertahanan dan harga diri dipertaruhkan.

Meskipun tiada habisnya pemerintah menggembar-gemborkan protokol kesehatan, toh nyatanya hanya beberapa gelintir orang saja yang mampu dan mau memahami pentingnya protokol kesehatan.

Bahkan kita tentu seringkali mendengar dan melihat pernyataan dan aksi bodoh mengenai pandemi yang terlontar dari masyarakat. Seperti pernyataan hentikan swab tes Covid-19 jika ingin pandemi segera berakhir, hingga aksi penolakan swab test yang berujung perusakan fasilitas seperti yang terjadi di Suramadu beberapa waktu yang lalu.

Memilih untuk menjadi bodoh dan acuh dalam konteks pandemi Covid-19 sebenarnya sah-sah saja. Akan tetapi yang perlu disadari adalah dampak dari kebodohan itu sendir. Sebab, jika hal ini terus dibiarkan, bukan hanya orang dewasa maupun lansia saja yang terancam keberlangsungan hidupnya, sebab anak dibawah umur dan bayi pun tentu akan berada pada mata rantai kebodohan tersebut.