Mengintip SSB Putu Sondong Wedarijaksa

0
223
Sekolah Sepak Bola (SSB) Putu Sondong Wedarijaksa tingkat usia SMP yang mengambil markas di lingkungan lapangan sepak bola Desa/Kecamatan Wedarijaksa.(Foto:SN/dok-wan)
Sekolah Sepak Bola (SSB) Putu Sondong Wedarijaksa tingkat usia SMP yang mengambil markas di lingkungan lapangan sepak bola Desa/Kecamatan Wedarijaksa.(Foto:SN/dok-wan)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Memanfaatkan fasilitas lapangan olahraga Desa/Kecamatan Wedarijaksa, maka sekelompok anak muda sadar benar sebagai pecinta bola yang mencoba untuk membuka dan menyediakan fasilitas Sekolah Sepak Bola (SSB). Sebab, apa pun alasannya upaya menuju ke kancah kompetisi, maka proses penggemblengan anak-anak sebagai objek pemain harus dilalui.

Dengan kata lain, untuk bermain bola dengan skil/kemampuan yang benar-benar maksimal tidak bisa dilakukan hanya sekadar menyiapkan pemian asal comot. Sedangkan yang lebih memprihatinkan lagi, hal itu menjadi model yang selalui muncul dan diulang-ulang setiap menjelang berlangsungnya jadwal kompetisi.

Karena itu, papar salah seorang penggagas berdirinya SSB Putu Sondong Wedarijaksa, Budi yang juga sekaligus sebagai ketua klub tersebut, pihaknya benar-benar memulai semua itu dengan merangkak dari bawah.  Yakni, untuk memgajak anak-anak usia SD dan SMP agar mulai menyenangi permainan sepak bola di kampung.

Kendati demikian, pihaknya juga mengetuk para orang tua anak-anak yang bersangkutan agar ikut ambil bagian di dalamnya. ”Sehingga terkumpullah anak-anak usia SD sebanyak 15 orang, dan yang sudah berusia tingkat SMP sebanyak 20 orang,” ujarnya.

Kesebelasan Putu Sondong Wedarijkasa, saat menjajal lawan main dari SSB setingkat dari Desa Pondowan, Kecamatan Tayu.(Foto:SN/dok-wan)

Tepatnya, lanjut dia, 10 Maret 2021 lalu berdirilah SSB itu dengan mendapat respons dari para orang tua murid di bawah asuhan pelatih kepala Wahyu K dibantu Dwi Atmoko, Saiful Arfin dan Joti Nivary, semuanya dari Persipa. Dengan demikian, latihan rutin dan terprogram awalnya bisa berjalan tapi harus libur dahulu saatnya puasa Ramadan April lalu.

Searang kini kembali dijadwalkan lagi masuk latihan yang sudah terjadwal, yaitu tiap Senin untuk anak-anak setingkat SD, Rabu (SMP), Jumat (SD dan SMP) demikian pula untuk Minggu. Setiap kali berlatih inilah, masing-masing murid harus membayar iuran Rp 4.000/anak, tapi kalau harus menjalani uji tanding terkena tambahan Rp 5.000/anak sekali bertanding.

Hanya dengan melalui iuran inilah, masing-masing anak dan orang tua seperti mulai terjalin pemahaman bahwa ”bibit-bibit” pemain yang mereka tanam sejak masih umur dini, suatu bisa memunculkan pemain yang benar-benar mamahami dan mencintai sepak bola. Di mana hasil akhir, apa yang dirumuskan oleh SSB ini adalah anak-anak ke depan bisa mengukir prestasi.

Karena itu, keberlangsungan dan kesinambungan harus dipesiapkan secara berjenjang sampai benar-benar sebagai pemain bola yang pantas membawa-bawa nama kakek-moyangnya. ”Yakni, Sondong Wedari atau yang lebih dikenal juga sebagai Sondong Makerti,” imbuh Budi.