Tamatkah Karir Politik Ganjar Pranowo?

0
15

BELAKANGAN ini, desas-desus tidak akurnya Ganjar Pranowo dengan mayoritas PDIP kembali menguat dan begitu nampak keberadaannya. Sebab belum lama ini, Ketua DPP PDIP Puan Maharani dan ketua DPD Jawa Tengah, Bambang Wuryanto atau yang biasa disapa Bambang Pacul telah memberi pesan yang begitu terang kepada publik bahwa pihaknya memang tidak menghendaki Ganjar Pranowo menjadi Capres PDIP.

Desas-desus tidak akurnya Ganjar dan mayoritas pengurus PDIP memang telah lema bergema. Namun seiring seringnya nama Ganjar dicatut dan diberbagai lembaga survei, nampaknya hal tersebut berhasil membuat tensi ketegangan tersebut semakin memuncak.

Pernyataan terang yang dilontarkan oleh Bambang Pacul dan Puan nampaknya sangat bisa diterjemahkan sebagai suara resmi partai berlogo banteng tersebut.

Kala itu Bambang menyatakan bahwa Ganjar sudah kebablasan, sementara Puan menyebut bahwa sebaiknya pemimpin itu bukan hanya populer di media sosial saja.

Hal tersebut juga dipertegas dengan tidak di undangnya Ganjar dalam forum pengarahan penguatan soliditas partai menuju pemilu 2024, yang dihelat di Jawa Tengah.

Secara normatif, bagi seorang kepala daerah sekelas Ganjar Pranowo, tentu sangat wajar jika ia merasa ingin menjadi salah satu kandidat calon presiden.

Ada beberapa modal penting yang sebenarnya telah Ganjar kantongi untuk menjadi seorang calon presiden. Yang pertama, ia memimpin Jawa Tengah yang merupakan salah satu provinsi paling padat di Indonesia, dengan begitu tentu akan sangat mudah mendapatkan eksposure di berbagai media.

Selain itu, Ganjar juga memiliki kemampuan komunikasi yang begitu unik dan khas yang tentu akan sangat membantu dalam mengerek popularitas dan elektabilitas.

Meskipun begitu, apa yang disampaikan Bambang Pacul tentu ada benarnya. Popularitas dan elektabilitas tanpa tiket dari partai tentu tidak akan begitu berguna. Selain itu, PDIP dikenal sebagai partai dengan kader yang tunduk kepada pimpinan, yang dalam hal ini adalah ketua umum PDIP Megawati. Dan PDIP punya mesin partai yang tangguh dan teruji.

Sebenarnya Megawati memang belum mengatakan apa-apa terkait Ganjar. Meski begitu, duet Puan dan Bambang tentu bisa saja kita tafsirkan sebagai suara yang mewakili Megawati. Bagaimana tidak? Puan adalah anak biologis Megawati, sementara Bambang sudah sedari lama dikenal sebagai salah satu orang kepercayaan Megawati.

Lantas bagaimana nasib Ganjar ketika diserang gejolak semacam ini? Sebenarnya Ganjar tentu sudah amat paham dengan apa yang sedang dihadapinya. Jika kita urut, karir politik Ganjar di PDIP terhitung sudah sangat lama, bahkan semenjak ia masih menjadi mahasiswa yang tergabung dengan GMNI yang terafiliasi dengan PDIP.

Ganjar tentu sudah khatam dengan jeroan partai tersebut, termasuk mengenai solidaritas dan kepatuhan yang begitu tegak lurus kepada partai dengan ketua umumnya. Jika ia melawan, tentu ia akan disingkarkan dari partai begitu saja.

Dalam titik ini Ganjar bisa saja melunak, sebab ia tentu sadar bahwa saat ini ia belum memiliki mesin politik yang kuat kecuali partai. Ganjar tahu persis, kemenangannya dalam dua kali tarung di Pilgub Jawa Tengah, terutama yang pertama kali, jelas didukung penuh oleh mesin partai PDIP yang sangat solid di provinsi yang memang dari dulu menjadi basis pendukung PDIP.

Namun tentu ada kemungkinan lain, yakni ia akan melawan dan melompat pagar partai tersebut. Bagaimanapun juga, selain mengantongi popularitas dan elektabilitas, nyatanya Ganjar masih akan memimpin Jawa Tengah selama dua tahun kedepan.

Itu artinya, ia masih punya cukup waktu untuk mendapatkan sorotan lampu dari publik dalam waktu yang cukup lama. Dengan waktu tersebut, ia akan bisa terus mengerek popularitas dan elektabilitasnya untuk dijadikan modal untuk melompat dari partai yang telah membesarkannya tersebut.

Yah, mari kita ikuti saja drama yang sedang terjadi di tubuh salah satu partai terbesar di Indonesia tersebut. Seperti apa langkah Ganjar dan PDIP nantinya juga akan bisa kita saksikan gratis saat waktunya telah tiba. Jadi bersabarlah wahai penikmat drama politik Indonesia.