Momen Hari Kartini, Ketua Kopri PMII Pati: Perempuan Bukan Kaum Marginal

0
71
Ketua Kopri PMII Pati, Rohmah Mugi Asih.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Perkembangan teknologi telah mempengaruhi pergerakan kehidupan manusia, baik secara fisik juga mindset. Dulu, makna hari Kartini yang masih asing di telinga kita, namun seiring kemajuan teknologi hal itu bertransformasi menjadi berkembang termasuk perjuangan terhadap emansipasi.

Menurut Ketua Kopri PMII Pati, Rohmah Mugi Asih bahwa kesetaraan gender haruslah terus diperjuangkan. Posisi perempuan dengan laki-laki mempunyai kapasitas dan akses yang sama dalam berbagai aspek.

Rohmah menyatakan dulu makna Hari Kartini masih asing termasuk dengan istilah emansipasi wanita. Sekarang ini terus didengungkan tentang kesetaraan gender. Dimana perempuan mempunyai hak yang sama dalam berbagai aspek,  mulai dari pendidikan,  karier, sosial,  dan bahkan politik.

“Oleh karena itu, proses ini harus diinternalisasi dalam diri, jangan berpikir perempuan sebagai kaum termarginal lagi,” kata Rohmah.

Menurut gadis asal Metaraman, Kecamatan Margorejo ini perempuan terutama ibu sebagai “al madrosatul ula” yakni sekolah pertama bagi anaknya hendaknya harus sadar bahwa hal ini tidak bisa disepelekan.

Sebagai contoh pada aspek keluarga, maka seorang ibu-lah yang menjadi ujung tombak pendidikan anak. Apalagi di era sekolah daring, maka peran ibu yang sangat dominan membangun keilmuan anak, kepedulian sosial, serta terbentuknya moral yang berakhlakul karimah.

“Karena perempuan yang cerdas akan melahirkan generasi yang berkualitas,” jelas Rohmah.

Terlebih, kompleksnya permasalahan perempuan menuntut perempuan untuk ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa. Perempuan saat ini juga banyak yang telah masuk di parlemen. Yakni membahas isu, wacana dan mencari solusi atas kompleksnya permasalahan perempuan itu sendiri.

“Sehingga apa yang menjadi masalah kaum perempuan akan lebih mudah untuk diperjuangkan ketimbang yang membahasnya adalah kaum laki-laki, yang notabene mereka kurang mengerti akan kompleksnya masalah yang dihadapi perempuan,” tegasnya.

Ia berharap “Kartini Masa Kini” mampu tumbuh dan terlahir kembali melalui pemikiran serta perjuangan bagi perempuan. Menurutnya, Kartini masa Kini bisa ditumbuhkan dengan selalu belajar open minded dengan hal-hal baru.

“Mulai dari pendidikan,  wawasan juga experience dengan tidak meninggalkan budaya lama yang juga patut untuk dilestarikan. Sehingga budaya patriarki tidak lagi mendoktrinasi para perempuan,” katanya.