Memahamkan Bangunan Pelimpah Samping Waduk Gembong

0
27
Sarwiyanto alias Pinggir, karena selama ini berdiam di pinggir Waduk Seloromo Gembong (atas) dan bangunan pelimpah (spillway) samping waduk (bawah).(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Setiap bangunan waduk apalagi yang peninggalan kolinial Belanda seperti Waduk Seloromo di Desa/Kecamatan Gembong, dan Waduk Gunungrowo, di Desa Sitiluhur juga di kecamatan setempat pasti mempunyai bangunan pelimpah (spillway). Letaknya di samping kiri maupun kanan waduk, tanpa dilengkapi pintu.

Akan tetapi, selama ini pula warga yang berdomisili di kawasan hilir Waduk Seloromo, terutama warga di kawasan Kota Pati, misalnya, masih perlu dipahamkan soal fungsi fasilitas bangunan tersebut. Dengan demikian, mereka tidak selalu gagal untuk memahami saat di kawasan hilir terjadi gelontoran air besar dari hulu, dengan menyebutkan bahwa pintu Waduk Gembong dibuka.

Akan tetapi salah seorang warga yang sejak kecil berdiam di pinggur waduk tersebut, Sarwiyanto alias pinggir menegaskan, tidak pernah seumur-umur pintu terowongan waduk dibuka lebar-lebar. ”Dibukanya pintu itu secara terukur, dan juga tidak asal karena dibukanya pintu terowongan tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan air para petani di kawasan hilir,”tandasnya.

Kondisi bangunan pelimpah di sisi samping kiri Waduk Seloromo Gembong.(Foto:SN/aed)

Karena itu, lanjutnya, kendati dia bukan petugas tapi sejak kecil sering mengikuti ayahnya yang memang merupakan salah satu personel penjaga waduk itu, akhirnya paham benar bahwa pintu waduk memang tak pernah dibuka. Dengan demikian, jika curah hujan cukup tinggi pada musim penghujan sehingga kapasitas daya tampung waduk sudah melebihi batas, maka otomatis saluran pelimpah akan mengalirkan air dari waduk.

Sedangkan berapa besarnya volume air dari waduk yang mengalir lewat saluran pelimpah adalah tergantung kelebihan air yang sudah tidak bisa ditampung oleh genangan waduk. Untuk Waduk Gembong sejak dulu hingga sekarang daya tampungnya sering disebut-sebut mencapai 9,5 juta meter kubik, tapi selama ini tidak pernah dihitung berapa tingkat sedimentasi di daerah genangan yang sepengetahuannya tidak pernah dinormalisasi.

Mengingat kondisi seperti itu, maka ketika di kawasan hulu curah hujan cukup tinggi, dan waduk tak mampu lagi menampung air dari saluran pengisi, maka kelebihan air tersebut dengan sendirinya akan limpas lewat bangunan pelimpah. ” Ke mana larinya air, tentu saja ke hilir dan bila gelontorannya lebih besar maka air pun akan limpas ke mana-mana menjadi banjir, tapi bukan banjir dari pintu waduk yang dibuka,”ujarnya.