Akar Radikalisme Berada pada “Fenomena Salah Pengajian”

0
17

PUBLIK mendadak dihebohkan oleh sosok perempuan muda terduga teroris berusia 25 tahun berinisial ZA yang melakukan penyerangan ke Mabes Polri seorang diri pada Rabu (31/3/2021).

Perempuan muda tersebut berhasil masuk ke kompleks Mabes Polri dengan membawa sejata api, lalu menyerang petugas polisi yang berada di lokasi.

Ya, beberapa waktu terakhir bangsa Indonesia memang sedang dikagetkan oleh fenomena terorisme. Sebab 3 hari sebelum penyerangan Mabes Polri tersebut, Indonesia juga baru saja berduka akibat bom bunuh diri di Makassar.

Berdasarkan fakta yang muncul di berbagai media, tentu sangat sulit mengatakan bahwa ZA ini berasal dari keluarga miskin. Rumah tempat tinggalnya tergolong bagus dan di Jakarta pula, bukan di kampung pelosok yang gersang. ZA juga diketahui pernah kuliah dan yang bersangkutan memiliki kartu anggota Perbakin.

Dengan berbagai fakta tersebut, hal ini tentu mematahkan argumen anggota DPR Bukhori Yusuf yang tempo hari pernah menyebut bahwa akar atas berbagai tindak terorisme dan radikalisme adalah ketidakadilan.

”Dalam kaitannya, terorisme dan radikalisme menurut saya pemicu terbesarnya itu adalah ketidakadilan dalam kehidupan, dalam kesejahteraan dan kesenjangan dalam mengakses kesempatan,” ucapnya.

Pernyataan Bukhori Yusuf itu dilontarkan untuk membantah pernyataan Ketum PBNU KH Said Aqil yang menyebut paham Wahabi sebagai pintu masuk doktrin terorisme.

Jika kita berkaca pada kondisi sosial ekonomi ZA, perempuan milenial satu ini tentu tidak bisa kita sebut sebagai warga tidak sejahtera dan mengalami kesenjangan dalam mengakses berbagai kesempatan.

Pernah kuliah dan mampu berlatih menembak dan memiliki kartu Perbakin, tentu tidak semua warga beruntung mendapatkannya. Juga aktif dalam group WA keluarga, artinya persoalan kepemilikan alat komunikasi modern dan akses informasi sudah selesai.

Dalam beberapa penangkapan terduga jaringan teror kita juga melihat bahwa banyak di antara mereka memiliki usaha yang baik. Dengan demikian masalah ketidakadilan sosial ekonomi tidak tepat dikatakan sebagai pemicu terbesar terorisme dan radikalisme.

Pada titik ini, pernyataan KH Said Aqil tentu lebih relevan. Jika keliru memilih guru atau sumber ilmu maka pemahaman bisa tersesat. Salah pengajian bisa menuntun orang bergabung dengan komunitas yang bermasalah.

Selain itu, dengan argument ini pun kita tentu akan lebih mudah dalam menjelaskan mengapa pelaku teror nyatanya memiliki latar belakang yang begitu bervariasi.

Ada yang kaya ada yang miskin, ada laki-laki dan perempuan, ada orang kota atau warga pelosok, ada pula generasi milenial atau yang sudah berumur. Artinya persoalan-persoalan tersebut dapat diabaikan ketika pemahaman di dalam otak sudah tercuci oleh doktrin yang keliru.

Dalam hal ini, ”fenomena salah pengajian” memang cukup layak kita cetak tebal dan menjadi fokus perhatian kita semua. Sebab berdasarkan apa yang pernah saya lihat sendiri maupun berbagai kesaksian dari kawan, salah pengajian memang justru seringkali berdampak pada kerugian individu yang bersangkutan atau bahkan keluarganya.

Mulai dari melupakan tanggung jawab dunia seperti bekerja, atau bahkan meninggalkan keluarga, fenomena salah pengajian juga tak jarang berujung pada tindak terorisme.

Ketika kuliah dahulu bukan sekali dua kali saya mendengar mahasiswa yang tiba-tiba drop out atau membatasi hubungan dengan keluarga, bahkan orang tua. Selain itu, saya juga masih ingat betul tatkala sahabat saya akhirnya memilih untuk meninggalkan pekerjaan, anak dan istrinya setelah mengikuti sebuah pengajian.

Terkait dengan akar radikalisme dan terorisme, Bukhori Yusuf mestinya mau membuka mata pada persoalan dalam tataran ide atau gagasan beserta penyebarannya. Berbeda pendapat dengan KH Said Aqil bukan masalah tetapi PKS juga harus melihat sisi gelap aktivitas ekstra-kurikuler keagamaan eksklusif tertentu yang berkembang di kampus, sekolah, atau di kalangan warga.

Kesenjangan sosial dan ketidakadilan memang ada tetapi akar radikalisme dan terorisme tidak berada di situ. Tema-tema itu hanyalah sekadar alat atau gimmick saja dan ujung-ujungnya warga atau jamaah yang terperangkap akan dibawa untuk menyelisihi tatanan yang ada.

Kajian atau pengajian yang positif mestinya punya output gagasan untuk hidup dan menghidupi sekeliling dengan kebaikan. Mengambil jalan pintas dengan memberontak terhadap tatanan bermasyarakat atau pemerintahan yang sah bukanlah pilihan yang sehat. Apalagi sampai punya niat membunuh sesama lewat jalur bunuh diri atas nama jihad.