Stasiun KA dan Terminal Bus Harus Terintegrasi (10)

0
44
Kondisi lahan di kawasan Kota Pati yang masih memungkinkan untuk lokasi membangun terminal bus tipe A yang juga bisa terintegrasi dengan stasiun kereta api.

Redaksi : Untuk melengkapi kebenaran tentang ramalan Sri Aji Jayabaya bahwa Pulau Jawa ini ”kalungan” (berkalung)” besi sebenarnya sudah lama lewat, tapi yang masih bertahan hanya di Pulau Jawa bagian selatan dan tengah. Sedangkan ”kalung besi” di Pulau Jawa bagian utara yang tersisa hanya di Semarang, karena yang ke timur mulai dari Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang hingga Tuban-Jatirogo-Bojonegoro kalung besi itu sudah punah. Sehingga jika PT Kereta Api Indonesia (KAI) ingin membuat kalung besi kembali utuk jalur tersebut, alangkah baiknya kita tunggu saja.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Dengan gambaran tentang kondisi bekas-bekas kondisi perkeretaapian di Pati masa lalu, sebagaimana dipaparkan  secara bersambung oleh ”Samin News” maka kata akhirnya, adalah kembali ke pihak yang berkompaten, Yakni, Dirjen Perkeretaapian yang akan merencanakan kembalinya jalur kereta api di kawasan pantura timur Jawa Tengah mulai Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang-Tuban-Jatirogo-Bojonegoro.

Padahal di Pati saja, meskipun aset PT KAI di Pati masih tersisa seperti halte stasiun dan tanah tapi hal muncul itu dipastikan tidak mampu menjawab permasalahan yang muncul jika rencana PT KAI diwujudkan. Banyak permasalahan akan muncul, dan bisa dimulai dari halte Kaliampo ke timur masuk Kota Pati sampai di Stasiun Pati.

Lepas dari stasiun tersebut, adalah masih terpendamnya sebagian rel dari stasiun tersebut ke timur sampai Alun-alun Simpanglima dan ke timur lagi di Jl Pemuda, pertigaan Gemeces hingga tugu batas kota dari timur (Juwana). Tepatnya, di Desa Geritan, Kecamatan Pati yang sudah pasti banyak hambatan yang tak bisa terurai, tapi masih ada peluang di jalur lokasi lapang antara tugu batas tersebut sampai sebelah barat Juwana.

Sebab, setelah memasuki lokasi Stasiun Juwana, maka permasalahan sosial jumlahnya menumpuk karena aset tanah PT KAI di lokasi tersebut sudah banyak dikuasai warga.  Ke timur lagi, jembatan kereta api yang membentang di alur Kali Juwana juga sudah tidak ada, sehingga hal itu merupakan salah satu ke sulitan tersendiri, tapi ke timur sampai Batangan tak ada masalah, karena di lokasi wilayah ini dulu hanya terdapat sebuah halte.

Berdasarkan kondisi riil di lapangan, jika rencana jalur kereta api di pantura timur Jawa Tengah maka disarankan, tidak perlu lagi memanfaatkan aset KAI yang ada di dalam kota hingga stasiun dan tanah di Juwana. Denga  demikian, pihak yang berkompeten setempat harus berani merekomendasikan, bahwa jaringan relnya harus dipindah ke lokasi di pinggir ruas Jalur Lingkar Selatan (JLS).

Tepatnya, mulai dari halte Kaliampo ke timur sampai ujung pertigaan JLS di Desa Sokokulon, Kecamatan Margorejo tersebut harus disiapkan perlintasan masuk kawasan JLS. Jika ke timur lagi, maka di akan bertemu kawasan lahan kosong yang bisa untuk membangun stasiun baru yag terintegrasi dengan dibangunnya terminal Pati.

Silakan kajiannya dilakukan secara komprehensif dan lebih mendalam!!