Sirkus Penderitaan di Obyek Wisata Banjir Dadakan

0
134

DEWASA ini, banjir justru seringkali kita temui sebagai sebuah entitas yang berbeda. Di berbagai tempat kini ia justru seringkali berubah atau sengaja seolah disulap sebagai obyek wisata dadakan. Sebenarnya, entah ini sebuah keberkahan atau justru sebaliknya?

Di berbagai wilayah hal semacam ini begitu seringkali terjadi, seperti yang baru-baru ini terjadi di Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Banjir di wilayah tersebut justru dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obyek wisata perahu yang bisa dikunjungi oleh siapa saja dengan membayar ongkos Rp5000.

Meskipun sejatinya hal tersebut adalah bencana, namun dalam titik ini warga justru seolah mengolah hal rasa sakit tersebut menjadi sebuah keberkahan.

Ironi memang, meskipun begitu nyatanya tempat ini selalu ramai dipadati oleh pengunjung yang penasaran dengan kondisi banjir tersebut.

Secara eksplisit sebenarnya kita bisa melihat beberapa kenyataan dari potret peristiwa tersebut. Yakni mengenai bagaimana mental masyarakat kita ketika melihat sebuah bencana, kesedihan dan sebagainya.

Sekilas, pengunjung tempat wisata model seperti ini tentu turut membantu bahkan membedayakan. Akan tetapi tentu ada titik ironi disini, yakni mengenai mentalitas masyarakat kita yang terkesan senang melihat penderitaan orang lain. Iya bukan?

Pada pertengahan abad ke-19 di New York sempat populer pemeran manusia aneh yang diselenggarakan di Dime Museum yang seringkali mempertontonkan berbagai atraksi yang mengandung rasisme dan diskriminasi terhadap penyandang difabilitas yang dibalut dengan istilah pseudo-saintifik yang bombastis dan merendahkan.

Meskipun begitu, hal ini tentu menjadi keberkahan sendiri bagi penyandang difabilitas yang kala itu masih sangat sulit dalam memperoleh pekerjaan. Dalam pemeran tersebut, kesedihan mereka diolah dan dieksploitasi menjadi tontonan asik bagi para filatropis untuk memuaskan hasrat pribadinya.

Secara garis besar, hal tersebut tentu hampir sama dengan apa yang terjadi di obyek wisata banjir dadakan semacam ini. Sebab keduanya sama-sama memberikan rasa senang bagi pengunjung dengan mengeksploitasi kesakitan seseorang.

Selain dari perspektif ini, wisata banjir dadakan secara tidak langsung sebenarnya juga menjadi sebuah bentuk kritik atas kinerja para pemangku kebijakan. Tanpa bersuara dengan nada sumbang pun, pemerintah sudah seharusnya mampu menangkap sinyal kritik melalui tangkapan peristiwa semacam ini.

Sebab secara prinsip banjir jelas bisa diakibatkan oleh berbagai faktor, termasuk human error yang disebabkan oleh buruknya regulasi.