Tim Karate PON Jalani Serangkaian Tes Fisik

0
40
Para karateka Pelatda PON XX melakukan push up dalam rangkaian tes fisik di Stadion Kridanggo Salatiga.

SAMIN-NEWS.com, SALATIGA – TIM  karate Jateng yang bergabung dalam Pelatda PON terus fokus menjaga kondisi fisik dan teknik, setelah pelaksanaan pekan olahraga nasional itu tertunda setahun, dari Oktober 2020 menjadi Oktober 2021. Walau hanya ditempatkan sebagai cabang olahraga unggulan ketiga oleh KONI, Pengprov Forki tetap mempersiapkan para karateka secara optimal.

Teknisnya adalah dengan menyusun program pembinaan yang terencana, terukur dan terpadu. Menurut manajer tim karate, Suroso, dengan sistem periodisasi program pembinaan, maka semua kegiatan dilakukan secara rinci baik harian, mingguan maupun bulanan mulai sekarang hingga pelaksanaan PON.

Karena itulah, sebelum memasuki program latihan tersebut, Sabtu (7/11) lalu diadakan tes fisik terhadap para karateka yang selama ini melakukan latihan desentrasisasi di rumah masing-masing akibat dampak pandemi Covid-19.

“Kendati secara rutin berlatih di rumah, intensitasnya pasti tidak sama, sehingga kondisi fisiknya juga tidak pada lavel yang sama. Karena itulah, tim pelatih menginginkan adanya tes fisik untuk membuat mereka memiliki lavel yang sama saat memulai program latihan pelatda PON yang kami lakukan mulai Januari nanti,’’ katanya.

Tes fisik terhadap karateka tersebut berlangsung di Stadion Kridanggo Salatiga ditangani empat pelatih, yakni Dyah Puspitasari, Yudi Budiyanto, Puspita Triana Gustin dan Febrian Gede Saputra. Materi tes yang dijalani mereka seperti tinggi badan, berat badan, lari 20 dan 50 meter, shuttle run 4 x 3 meter dan 8 x 3 meter, standing broad jump, push up, sit up, back up, power endurance tungkai, egility cort, lateral dan beep test.

Walau dalam kondisi cuaca panas mereka tetap bersemangat dalam menjalani rangkaian tes fisik tersebut. Suasana guyub dan sesekali diisi canda – tawa, membuktikan tim ini sudah sangat menyatu ofisial dengan atlet. “Suasana seperti ini memang harus tercipta, karena kami memiliki satu misi, yakni meraih  prestasi maksimal di PON,’’ kata Suroso.

Jateng dalam persiapan mengahadpi PON ini meloloskan 12 atlet, yakni Sindhytyas Putri Vedhayana, Hera Irnandha, Garudha Mahameru, Herlan Adi Yoga, Getta Shafada Aryadilana, Farizal Wahyu Adika Detrina Sabda Nugraha, Aliffa Melanisti, Laila Nurul Humairoh, Oshi Sulfa Saniya, Achten Nungki Alfa Sanatullah,dan  Agvyan Rizky Pradana.

Ketua Umum Pengprov Forki Jateng, Bambang Raya Saputra mengatakan, pihak dalam mempersiapkan atlet ke PON memang membuat pola pembinaan yang terencana ,terukur dan terpadu. Ini penting agar perkembangan atlet terpantau secara cermat setiap saat, sehingga kondisi puncak karateka bisa didapatkan saat PON, bukan sebelum atau malah sesudah PON.

Perlu diketahui, setelah adanya penundaan pelaksanaan PON sangat mempengaruhi persiapan para atlet menuju puncak kompetisi atlet tingkat nasional itu.  Para karateka yang masuk tim PON, awalnya juga dipersiapkan dengan baik, namun begitu adanya pandemi Covid-19 semuanya jadi berubah.

“Para atlet kami pulangkan, dan mereka menjalani latihan desentralisasi . Kondisi ini membuat pantauan perkembangan teknik dan fisik tidak maksimal, dan tes fisik ini bagian dari upaya untuk mengetahui kondisi awal atlet sebelum memasuki program intensif pelatda PON,’’ katanya.

Data kondisi fisik ini sangat penting, karena sebagai dasar untuk melaksanakan atau mengikuti program latihan persiapan PON secara terencana dan terukur yang kemungkinan besar dilakukan mulai Janurari. Dengan mengetahui data kondisi fisik atlet, maka pelatih akan mampu memberikan porsi yang sesuai dengan program kerjanya

“Saya yakin, anak-anak selama ini juga berlatih di rumah, namun belum dalam tatanan pola latihan yang sama untuk semua atlet. Misalnya, untuk atlet kumite tentu akselerasi program latihan harian berbeda dengan atlet kata,’’ ujarnya.

Dia ingin tim yang menangani atlet pelatda PON benar-benar bekerja dengan pola dan program latihan yang terencana dan terukur. Artinya, buat program yang baik melalui pembinaan teknik dan fisik yang terorganisasi, sehingga pelatih tahu persis perkembangan atlet dari hari ke hari. “Saya hanya berharap, semua dilakukan dengan terencana, karena ini bagian dari sistem pertanggungjawaban kinerja Forki kepada KONI Jateng sebagai pemberi anggaran persiapan PON XX,’’ katanya.