Posterisasi dan Hewan Buas dalam Diri Politisi Bernama “Narsistik”

0
17

DALAM masa musim politik seperti sekarang ini, tidak elok rasanya jika kita melupakan keberadaan poster atau baliho sebagai sebuah medium berkampanye. Saya sebut sebagai berkampanye, sebab itulah makna yang paling nampak dipermukaan untuk melihat fenomena tersebut.

Tentu dalam sebuah musim politik kita akan dengan mudah menemukan sederet baliho atau poster dengan deretan wajah dan kalimat usang tokoh pilitik kita? Bahkan, dalam konteks tersebut hampir tidak ada bedanya antara desa dan kota. Poster dimana-mana !

Berbicara tentang hal ini, tentu tidak sedikit dari kita yang akan kembali teringat dengan kasus Evi Apita Maya, yang terpaksa harus digugat lantaran alat peraga yang dipakainya dianggap terlalu berlebihan.

Evi Apita Maya yang saat itu sedang menjadi Caleg untuk Dewan Perwakilan Daerah (DPD) digugat oleh seorang lelaki yang menganggap bahwa Evi terpilih karena foto dalam alat peraga yang dipakai terlalu cantik dan jauh berbeda dengan foto aslinya.

Okelah, kita skip saja pembicaraan tentang hal tersebut.

Jika kita menilik berbagai literasi, sejarah poster dan politik adalah bagian dari sejarah protes. Sebuah cara yang digunakan untuk membangun propaganda tandingan terhadap kekuasaan yang opresif. Karena itu juga, poster adalah siasat yang digunakan untuk membentuk “kesadaran kolektif” dari mereka yang diinjak-injak martabat kemanusiaannya.

Namun sekarang poster dan politik tidak tumbuh dalam tradisi tunggal. Atau, lebih tepatnya telah menjadi ruang terbuka yang berhak digunakan oleh siapa saja dan terserah untuk apa saja. Terlebih, perkembangan teknologi editing dan percetakan membuatnya seperti menjual permen di lampu merah belaka.

Hingga kini sebenarnya saya tidak faham mengapa keberadaan poster dan baliho dirasa sedemikian penting bagi para politisi. Apalagi jika kita lihat setelah pemilu akhirnya ya begitu-begitu saja.

Atau, lebih persisnya, bagi mereka yang merasa hidupnya adalah bagian yang tak terpisah dari hidup orang banyak. Mereka sedang mengurusi orang banyak itu. Sehingga dengan memposter-posteri diri seperti itu, orang banyak itu boleh merasa ada sosok yang sedang menyebut-menyebut dirinya bersama mereka. Ada orang yang sedang kelihatannya sih peduli gitu sama hidupmu. PD amat ya?

Sebenarnya, secara dangkal saya sedikit mengerti mengenai hobi mereka yang suka memposterisasi dirinya. Paling tidak, memposterisasi diri bisa bermakna dua. Pada yang terakhir, dia sedang meneguhkan sekaligus menarik batas. Pada yang pertama tadi, posterisasi adalah kiat meletakkan diri di dalam pikiran orang kebanyakan. Dalam politik elektoral, ini adalah marketing politik.

Padahal, melalui politik poster inilah yang sebenarnya selalu menggiring pada membengkaknya biaya politik. Namun sepertinya hal tersebut tidak menjadi masalah, yang terpenting wajah mereka ada dimana-mana. Setidaknya ada hawan buas bernama ego dan narsistik dalam diri yang mereka beri makan dengan membuat poster dan baliho dimana-mana.

Ya wis Pak, Buk karepmu !