Tanah Liat Berupa Bongkahan; Tim Pemakaman Harus Bekerja Ekstra Keras

0
109
Tim pemakaman jenazah standar protokol Covid-19 tengah mengusung peti jenazah dalam pemakaman di Desa Margomulyo, Kecamatan Juwana, Rabu (14/10) malam (tadi malam) dan sebelum dimasukkan ke lubang makam, modin desa setempat mengumandangkan adzan.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Untuk pemakaman jenazah dengan standar protokol Covid-19 yang berlangsung Rabu (14/10) atau semalam sekitar pukul 20.00, tim pemakaman dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, harus bekerja ekstra keras. Sebab, kondisi tanah makam di kawasan areal persawahan tersebut saat digali bentuknya berupa bongkahan warna abu-abu kehitam-hitaman.

Karena itu, saat bongkahan tanah liat dengan karakteristiknya berbeda bila dibanding kondisi tanah liat di lokasi lain dicangkul, maka tanah tersebut justru lengket menempel pada cangkul sehingga tim harus bekerja ekstra keras. Dengan demikian, upaya menutup lubang makam setelah peti jenazah dimasukkan juga memakan waktu sedikit lama bila dibanding menguruk lubang makam yang kondisi tanahnya dalam kondisi sebaliknya.

Menyikapi hal tersebut, maka ada di antara anggota tim yang menguruk/menutup lubang makam tidak menggunakan cangkul melainkan menggunakan tangan. ”Dengan cara itu, bisa sedikit lebih cepat karena kalau menggunakan cangkul maka tanah liat itu akan menempel dan untuk melepaskannya batang cangkul harus diayunkan sedikit lebih keras,”ujar salah seorang di antara anggota tim, sebut saja namanya Kusuma.

Tim pemakaman saat memasukkan peti jenazah ke lubang makam.(Foto:SN/aed)

Dengan melemparkan bongkahan tanah liat tersebut ke dalam lubang makam menggunakan tangan, lanjutnya, paling tidak mengurangi tingkat kesulitan tim lainnya yang menggunakan cangkul. Maksudnya, setelah tanah liat bongkahan sedikit berkurang maka peralatan cangkul bisa difungsikan untuk menggaruk tanah liat lainnya yang tidak berupa bongkahan besar.

Melihat kondisi tanah makam seperti itu, maka ada salah satu pihak keluarga yang menyediakan air dalam ember untuk membasahi cangkul atau untuk menyiram gundukan bongkahan tanah liat yang belum dimasukkan. Untuk keperluan tersebut, tinggal menghidupkan mesin pompa air yang memang disediakan di dalam lingkungan makam, sehingga dengan penyiraman air pada bongkahan tanah liat itu  sedikit mempermudah untuk mencangkulnya.

Tim pemakaman yang kompak terus mencangkul tanah liat untuk menutup/menguruk lubang makam dan di sisi lain ada pihak keluarga yang membantu menyemprotkan air ke bongkahan tanah liat hasil penggalian lubang makam.(Foto:SN/aed)

Terlepas dari hal itu, prinsip seluruh personel Tim Pemakaman Jenazah Standar Protokol Covid-19 tetap masih menjadi slogan sebagai penyemangat meskipun harus melaksanakan tugas pada malam hari yang kadang-kadang harus berlangsung hingga dini hari. ”Slogan penyemangat itu tak lain, ‘pantang kembali sebelum jenazah termakamkan,”tandasnya.

Terpisah Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya menjelaskan, bahwa selaian pemakaman jenazah dengan standar protokol Covid-19 di Desa Margomulyo, Kecamatan Juwana, selesai itu dilanjutkan pemakaman yang sama. Lokasinya di wilayah Pati selatan, yaitu di Desa Kasiyan, Kecamatan Sikolilo.

”Jenazah laki-laki warga desa itu sebelum meninggal sempat dirawat di Rumah Sakit (RS) Moewardi Solo,”imbuhnya.