Satu Desa di Kecamatan Gembong; Beras Untuk BSNT Harus Diganti

0
140
Kepala Bidang (Kabid) Penanganan Sosial dan Penanggulangan Fakir Miskin Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Pati, Tri Haryumi.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Sudah satu penyedia komponen yang harus dialokasikan dalam penyaluran Bantuan Sosial Nontunai (BSNT) Provinsi yang ditegur dan diperingatkan, agar mengganti komponen berupa beras tersebut.  Sebab, beras tiap kemasan sebanyak 10 kilogram yang seharusnya kualitas premium dengan harga Rp 10.500/kilogram, ternyata isinya beras kualitas medium.

Bukti dan indikasi bahwa komponen beras yang disalurkan bersama bantuan komponen lainnya, termasuk ikan olahan dalam kaleng yang lazim disebut sarden, bukan jenis premium karena setelah kemasan dibuka/dicek terlalu banyak butir menirnya. Dengan demikian, komponen beras sebanyak itu jika masuk dalam katagori medium adalah lebih tepat, karena untuk beras dengan kualitas premium kadar menir maksimal hanyalah 10 persen.

Ketika hal tersebut ditanyakan kepada Kepala Bidang (Kabid) Penanganan Sosial dan Penanggulangan Fakir Miskin Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Pati, Tri Haryumi tidak mengelak. ”Komponen beras kualitas seperti itu, ditemukan personel TKSK di salah satu desa di wilayah Kecamatan Gembong,”tandasnya.

Akan tetapi pihak yang menyalurkan BSNT tersebut, lanjutnya, menyatakan siap mengganti beras yang dari sisi kemasannya bagus, dan hanya saja saat dicek isi di dalamnya ternyata kadar menirnya cukup banyak. Karena ada kesanggupan untuk mengganti, maka pihaknya untuk saat ini bersedia memahami, dan jika nanti kembali diulang lagi tentu ada catatan tersendiri.

Apalagi, jumlah kelompok penerima manfaat (KPM) atas penyaluran BSNT tersebut, jumlahnya masih banyak dan komponennya tidak hanya berupa beras, melainkan ada pula minyak goreng, sarden, telur, kecap dan mie instan. Dengan demikian, seluruh komponen  tersebut harus benar-benar dalam kondisi baik dan maksimal, agar KPM bisa menikmatinya semaksimal pula.

Sebab, alokasi anggaran untuk kepentingan penyaluran BSNT tersebut nilai per KPM-nya adalah sebesar Rp 200.000, sehingga jika pengadaan barangnya maksimal sesuai harga pembelian yang dipatok, tentu akan bisa dinikmati seluruh penerimanya. ”Karena itu, jangan berharap jika komponen BSNT  tersebut tidak maksimal pasti  akan menimbulkan pernasalahan,”imbuh Tri Haryumi.