Perbedaan Data dan Bias Penanganan Covid-19

0
12

KASUS persebaran virus corona di Indonesia saat ini telah memasuki fase yang cukup memperihatinkan. Kurva persebaran justru semakin hari kian menanjak dan tak ada tanda akan segera melandai. Data covid-19 yang secara prinsip seharusnya bisa menjadi acuan pemetaan penanganan justru masih mengalami sengkarut perbedaan data antara pusat dan daerah.

Seperti data Covid-19 di Semarang yang diungkapkan oleh Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Nasional. Data yang dibeber tersebut ternyata justru tidak sama dan mendapat koreksi dari Pemerintah Kota Semarang.

“Yang perlu menjadi perhatian adalah ada 11 kabupaten/kota yang memiliki kasus aktif lebih dari 1.000, Kota Semarang 2.591 kasus,” kata Juru Bicara Satuan Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Namun keterangan tersebut langsung oleh Pemerintah Kota Semarang. “Kami punya data yang tiap hari dilakukan verifikasi dan validasi. Dan data di dasbor siaga corona menjadi acuan kami,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam.

Lebih lanjut ia menyampaikan koreksai atas data yang dibeber oleh Satgas Covid-19 Nasional. Menurutnya jumlah kasus yang aktif berdasarkan data pusat sebanyak 2.669, sedangkan dinkes mencatat hanya 474. Berdasarkan penelusuran dan verifikasi, 1.467 kasus aktif yang dicatat oleh pusat tidak ditemukan.

Sebenarnya perbedaan data seperti itu bukanlah hal baru dalam penanganan covid-19 di Indonesia. Sebagai contoh data di website covid-19 milik Kabupaten Pati sendiri seringkali berbeda dengan data Provinsi Jawa Tengah.

Perbedaan data ini juga dicatat oleh KawalCOVID-19, yang di Twitter menyebut diri sebagai perkumpulan “inisiatif sukarela netizen” yang bertujuan “mengawal informasi COVID19, mendorong transparansi data dan komunikasi krisis yang benar, dan mengadvokasi kebijakan berbasis bukti.”

Koordinator Data KawalCOVID-19 Ronald Bessie mengatakan bahwa perbedaan data seperti ini bukanlah hal baru, temuan serupa seringkali ditemukan di berbagai daerah. Bahkan perbedaan data seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak pertama kali covid-19 di tangani.

Satu contoh perbedaan jumlah total kasus pada 9 September. Pusat mencatat ada 203.342, sedangkan daerah, setelah dikalkulasikan, ada lebih banyak 568 atau total 203.910. Pada hari yang sama, pusat mencatat 145.200 kasus sembuh, sedangkan daerah 148.944 atau selisih 3.744. Sementara data kasus meninggal, pusat mencatat 8.336, sedangkan daerah selisih 689 atau sebanyak 9.025.

Sebenarnya, perbedaan data seperti ini bisa saja terjadi lantaran ada selisih waktu pelaporan antara kabupaten/kota ke provinsi, kemudian provinsi ke pusat. Tapi tidak semua daerah mengalami kasus seperti itu.

Entah apapun penyebabnya, seharusnya perbedaan data seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja mengingat substansi dari pentingnya data tersebut. Perbedaan data seperti ini juga akan rentan menimbulkan masalah, mulai dari kepercayaan masyarakat hingga gagalnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya disuatu daerah.

Jika hal seperti ini dibiarkan begitu saja, tentu akan membuat bias dan tidak dapat merepresentasikan kondisi yang sebenarnya. Selain itu di titik tertentu hal seperti ini juga akan berdampak pada penanganan yang kurang tepat lantaran ketidakakuratan data. Yahh, semoga saja pemerintah lekas berbenah mengingat hal ini sudah menyangkut keselamatan masyarakat Indonesia. Semoga…