Limbah Daun Bawang dan Rumah Tangga Diubah Jadi Pupuk Kompos

0
33
Pengelola BUMDes Bumi Lestari, Muji Artono.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Melihat persoalan limbah sampah yang dihasilkan dari rumah tangga dan juga limbah daun bawang merah di pemukiman penduduk, kemudian hal ini dimanfaatkan oleh penduduk, tepatnya BUMDes Bumi Lestari Desa Ngurensiti dan Karang Taruna setempat. Limbah-limbah itu diubah jadi hal yang bermanfaat.

Pengelola BUMDes Bumi Lestari Muji Artono melihat persoalan limbah itu, selanjutnya diubah menjadi peluang yang bisa bermanfaat. Dengan demikian, persoalan limbah bisa teratasi dan mendatangkan manfaat lingkungan bersih.

“Awalnya kita lihat persoalan limbah rumah tangga dan juga limbah daun bawang merah di pemukiman warga. Soalnya disini (Desa Ngurensiti, red) mayoritas petani bawang merah. Kebanyakan di jalanan maupun di saluran sungai banyak sampah,” ungkapnya kepada Saminnews, Kamis (20/8/2020).

Pengelolaan sampah itu, kata Tono selanjutnya dijadikan 2 produk, yang pertama untuk pembuatan kompos dan yang kedua dikelola menjadi bank sampah. Pasalnya, sebelumnya di pinggir jalan maupun di sungai banyak sampah dari daun bawang merah oleh warga setempat. Dengan demikian, lantas BUMDes menampung daun bawang itu untuk dijadikan pupuk kompos.

Selain itu, warga banyak yang komplain terkait bau dari kotoran ternak. Oleh karena itu, pihaknya mengambil kotoran ternak tersebut selanjutnya untuk diolah sebagak pupuk kompos.

“Sebelumnya warga itu mengkritik lantaran bau kotoran kambing dari salah seorang penduduk, akhirnya kita ambil kita gunakan untuk pembuatan kompos. Dari upaya itu, sedikit demi sedikit bisa berjalan seiring bertambahnya waktu,” tambahnya.

Pihaknya menuturkan, pembuatan pupuk kompos bisa berproduksi serta bank sampah juga berjalan. Karena, Tono menyebut masyarakat mulai menabung bank sampah fasilitas oleh BUMDes.

Khusus untuk layanan bank sampah, pihaknya mendayagunakan dari sampah plastik. Hal itu tidak dalam bentuk wujud semula seperti plastik utuh. Namun, digiling terlebih dahulu menjadi pecahan-pecahan plastik dalam ukuran yang lebih kecil.

“Bahan dari plastik kita ubah terlebih dahulu, kalau masih dalam bentuk utuhan itu kurang punya nilai ekonomis. Tapi kalau digiling lagi nilainyapun akan bertambah. Bahkan bisa 100 kali lipat dari harga normalnya,” tandasnya.