Beda Tipis Rezim Jokowi dan Ibu-ibu Sosialita

0
46

BELUM lama ini Indonesian Corruption Watch (ICW) merilis sebuah hasil kajian yang mengatakan bahwa rezim yang sedang menjabat telah menggelontorkan dana besar-besaran untuk berbagai aktivitas digital seperti medsos dan influencer sebagai penyambung lidah berbagai kebijakan pemerintah.

Kajian tersebut disampaikan oleh peneliti ICW, Egi Primayogha, dalam diskusi daring berjudul “Rezim Humas: Berapa Milyar Anggaran Influencer” yang diselenggarakan Kamis lalu. Pada kesempatan tersebut Egi menyampaikan bahwa jika dihitung, sampai saat ini negara telah mengucurkan dana 1,1 triliun untuk kepentingan yang sebenarnya tidak begitu penting.

Lebih lanjut Egi menyampaikan bahwa angka tersebut didapatkan melalui sejumlah kajian dan penelusuran aktivitas pengadaan barang dan jasa (PBJ) di kementerian dan lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK) di masing-masing situs LPSE.

“Jika ditelusuri berdasarkan kata kunci, aktivitas digital banyak dikakukan melalui media sosial. 68 paket pengadaan dengan kata kunci “media sosial” total anggaran 1,16 triliun,” kata Egi.

Temuan ICW tersebut, sontak menghadirkan berbagai reaksi dari masyarakat. Bahkan muncul tagar #1TriliunanBuatBayarBacot yang menjadi trending topik di laman twitter baru-baru ini. Kebanyakan mereka mengkritisi habis-habisan penggunaan dana yang dinilai terlalu berlebihan tersebut.

“Beberapa tahun lagi buzzer akan menjadi profesi impian banyak orang karena kerjanya cuma rebahan main hape muja-muja bosnya dan nyinyir oposisi, dibayar mahal,” tulis salah satu pengguna twitter.

Dalam satu sisi, menggunakan influncer sebagai penyampung lidah memang tidak salah, tapi di sisi lain seringkali jasa itu digunakan untuk bersolek agar sesuatu terlihat bagus rasanya kok sangat tidak tepat. Dengan dana sebesar itu, rasanya justru seperti melihat ibu-ibu sosialita yang rela kehilangan uang jutaan bahkan puluhan juta hanya untuk bersolek, tapi ini kan negara ya?