Tradisi Suronan di Kajen Pati Tak akan Digelar

0
50
Sekdes Kajen Yusro.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Pemerintah Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati menyebut tidak membuat kepanitiaan Suronan. Hal tersebut lebih tepatnya disebabkan karena adanya wabah pandemi Covid-19. Pemerintah Desa Kajen tidak berniat menggelar rangkaian acara dengan melihat resiko dibaliknya.

“Untuk acara Suronan Pemdes Kajen tidak mengadakan, bahwa Pemdes tidak membuat kepanitiaan untuk keperluan itu. Tidak ada acara keramaian peringatan seperti tahun sebelumnya, ya itu kita tidak mengadakan,” kata Sekdes Kajen Yusro saat dikonfirmasi Saminnews belum lama ini.

Tradisi 10 Syura ini merupakan sebuah bentuk tradisi yang hidup dan berkembang di Desa Kajen yang diwariskan secara turun temurun dan dirayakan setiap tahun dimana penyampaiannya secara lisan dan merupakan milik bersama pendukungnya. Awal mula dilaksanakannya tradisi 10 Syura, Syekh Ahmad Al-Mutamakkin ini adalah untuk mengenang akan jasa-jasa beliau sebagai tokoh agama Islam dan menghargai jasa ilmu yang beliau turunkan.

Kalaupun terdapat acara di pemakaman Mbah Mutamakkin, kata Yusro itu adalah proses yang dijalankan oleh pihak intern yayasan pengelola makam. Namun, tentunya akan melihat dengan memperhatikan aspek protokol kesehatan yang berlaku di tengah masyarakat.

“Selain 10 Syura itu, kita sebenarnya juga ada kegiatan 1 Syura. Tapi, kita laksanakan dengan secara sederhana. Hanya sebatas dari perangkat desa. Kita taati dari aturan yang berlaku terkait peniadaan kegiatan yang sifatnya keramaian,” jelasnya.

Namun, kegiatan digelar secara sederhana tersebut bukan berarti menghilangkan makna dari tradisi itu sendiri. Sebab, bagaimanapun juga dengan tetap dilestarikan dengan semampunya yang bisa. Meski terdapat wabah Covid-19, yang mengharuskan physical distancing. Maka, disikapi dengan diikuti hanya internal.

Tempat perayaan dan ritual ini berlangsung di makam Syekh Kyai H. Ahmad Mutamakkin yang berada di tengah-tengah desa Kajen dan sekitarnya.

Adapun rangkaian ritual keagamaan yang biasanya dilaksanakan antara lain, Tahtiman Al-Quran Bilghoib dan Binnadhor, buka selambu dan pelelangan, serta tahlil khoul. Serangkaian ritual ini dimulai dengan manaqiban pembukaan di pesareyan.