Di Pati Terdapat 49 Penyintas HIV, Sebagiannya Terkena AIDS

0
55
Kompleks Lowongan Indah Margorejo.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati telah mencatat sebanyak 49 orang penyintas HIV di wilayah Pati. Data itu diketahui melalui kegiatan test cepat atau rapid test bagi mereka pekerja seks komersial (PSK). Rapid test HIV dilakukan di tempat lokalisasi, yang menjadi pusat interaksi baginya.

“Sejak bulan Januari awal tahun 2020 ini sampai dengan bulan Mei kami mencatat ada 49 penyintas HIV/AIDS. Dan itu diketahui melalui test HIV pada tempat-tempat lokalisasi, misalnya di Lorong Indah, tapi bukan hanya sini saja lho,” ucap Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Dinas Kesehatan Ninik Trisnawati, di Kompleks LI, Jumat (19/6/2020) kemarin petang.

Selama pencatatan periode bulan Januari s/d Mei beberapa diantaranya hingga ada yang terkena AIDS. Oleh karena itu, upaya pencegahan dalam menghentikan virus HIV sangat penting dilakukan. Maka dari itu pentingnya program rehabilitasi perlu dilakukan. Yakni, program yang harus bersifat serius dan terintegrasi karena mencakup hajat orang banyak yang terlibat di dalamnya.

Sementara itu, HIV ini merupakan virus yang melemahkan sistem kekebalan pada tubuh manusia. AIDS adalah penyakitnya, sedangkan HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS. Bisa dikatakan positif AIDS jika virus HIV telah berhasil merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang terkena.

“Jika ditemukan orang yang reaktif atau sudah terkena penyakit AIDS, artinya bagi kami atau petugas kesehatan terkait itu sudah terlambat. Tapi, kalau terkena HIV jangan sampai lebih buruk lagi, yaitu AIDSnya tadi,” tegasnya.

Rintangan dalam mengentaskan jaring HIV/AIDS ini menurut Ninik, bahwa mengajak orang untuk pergi berobat itu masih sulit. Bisa jadi, karena yang bersangkutan merasakan rasa frustrasi luar biasa. Atau bisa jadi, membiarkan virus itu menempel di dalam tubuhnya. Karena, tingkat pemahaman pelaku juga berpengaruh untuk sembuh dari itu.

Kemudian, misalnya dalam satu keluarga tidak ingin diketahui oleh anggota keluarga lainnya. “Mungkin karena stigma yang dirasakan olehnya karena malu. Akhirnya tidak diinformasikan kepada keluarga. Maupun, penyakit ini sengaja ditutupi, agar lingkungan tempat tinggalnya tidak ada yang tahu,” tutupnya.