Telantarnya Puluhan Warga di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni

0
38
Dua bus dari Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan yang mengantar para pemudik dari luar Jawa (Sumatra) yang telantar di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, dan pada tengah malam serta Senin (18/5) dininhari tadi sampai ke Terminal Sleko Pati.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com  PATI (SN) – Minggu (17/5) malam atau semalam (red) sebanyak dua bus Sinar Jaya memasuki Terminal Sleko Pati, membawa 41 pe mudik dari luar Jawa (Sumatra) dan lebih khusus lagi dari Jambi. Seperti tahun-tahun sebelumnya setiap menjelang Lebaran, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan memang menyediakan bus untuk para pemudik ke kampung halaman mereka.

Akan tetapi para pemudik yang notabene adalah para perantau dari Jawa Lebaran kali ini kondisinya berbeda jauh dengan Lebaran tahun-tahun sebelumnya, karena berlangsung di tengah-tengah situasi pandemi merebaknya virus Corona (Covid-19). Akibatnya, cerita kondisi dan nasib puluhan pemudik ini menjadi lain, dan bahkan sangat memprihatinkan.

Dari keterangan yang dihimpun ”Samin News” dan juga pemantauan semalam hingga dini hari tadi di Terminal Sleko Pati, adalah cermin kondisi mereka selama di perjalanan karena pemerintah sudah berulang kali menyampaikan imbauan dan larangan mudik Lebaran. Akan tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan kemauan mereka untuk pulang ke kampung halaman bertemu dan bersilaturahmi dengan keluarga.

Akibatnya, jika mereka harus telantar beberapa hari tentu sebuah risiko yang tak bisa dihindari karena memang tidak ada angkutan yang bisa membawa mereka sampai ke daerah tujuan. ”Kami berangkat dari Muarabungo, Jambi dengan tujuan langsung Pati sejak Senin (11/5) dan di tempat agen penjualan tiket bus langsung disuruh naik,”tutur salah seorang di antara mereka, Sukarman, asal Kayen, Pati.

Bus terakhir atau kelima yang membawa para pemudik dari Sumatra yang memasuki Terminal Sleko Pati, bersama para penumpangnya pada Senin (18/5) dini hari pukul 01.30 tadi.(Foto:SN)

Untuk keperluan tersebut, katanya lebih lanjut, para penumpang harus membayar tiket bus hingga mencapai Rp 1.200,000, dan perjalanan memang lancar. Akan tetapi ketika perjalanan sampai di Pelabuhan Penyeberangan di Bakauheni menuju Merak atau dari Sumatra ke Jawa, para penumpang bus diminta turun karena bus pembawa rombongan pemudik tak bisa melanjutkan perjalanan, sehingga bus pun harus putar-balik.

Dengan demikian, mereka sampai tiga hari telantar dan  berada di pelabuhan tersebut yang harus mengikuti ketentuan pemeriksaan kesehatan (rapid test) untuk melanjutkan perjalanan. Setelah semua menjalani pemeriksaan dan menerima bukti hasil pemeriksaan dengan hasil negatif, barulah dilakukan penyeberangan ke Merak.

Akan tetapi kondisi mereka saat telantar sudah ramai menjadi bahan berita (viral) di media sosial (medsos), sehingga sesampainya di Merak bus pengangkut sudah disiapkan oleh pemerintah.

”Tujuan perjalanan terjauh memang sampai di Pati, padahal ada pemudik lainnya dari daerah lain pula, hanya saat ditanya turun  di mana, semua mengatakan turun ke Pati,”imbuh Karman.

Hal tersebut sempat membuat petugas penerima di Terminak Sleko, harus kembali melakukan pengecekan ulang selain melakukan prosedur kesehatan. Sebab, data dari pemeriksaan di pelabuhan penyeberangan yang dibawa sopir ternyata tidak sesuai, karena penumpang/pemudik dari Pati bercampur dengan pemudik dari daerah lain.