Pencoleng Kelas Atas Pandemi Corona

0
16

PANDEMI virus corona memunculkan berbaagai kisah kepahlawanan yang mengharu-biru ke permukaan. Seperti kisah Koh Steven yang merupakan pendiri serta Ketua Muallaf Center Indonesia yang menjual semua asetnya senilai 13 miliar untuk disumbangkan untuk penanganan corona. Namun disisi lain kondisi seperti ini juga kerap memunculkan kisah para pencoleng di permukaan. Berpura-pura mengulurkan tangan, padahal ingin mengeruk keuntungan dari penderitaan orang lain bak mengail untung di air keruh.

Pada awal April lalu, perusahaan produsen obat-obatan terkemuka Kimia Farma mendatangkan 300 ribu alat uji cepat (rapid test kit) dengan merek Biozek dari Belanda. Belakangan terungkap, alat uji itu bukan produk Eropa dan akurasinya pun diragukan. Perusahaan penjual alat ini diduga memalsukan keterangan serupa untuk memasarkan produknya di beberapa negara, termasuk Italia, Makedonia, dan Inggris.

Tak hanya asal saja yang dipalsukan, validitas alat ini juga sangat diragukan dan tidak seperti yang dijanjikan. ua riset independen di Inggris dan Spanyol menemukan bahwa klaim akurasi di atas 90 persen dari alat uji ini ternyata tak terbukti.

Namun, apa daya? Nasi sudah menjadi bubur. Selain mengadukan ke pihak kepolisian, Kimia Farma seharusnya segera menarik alat rapid test tersebut dari berbagai jaringan tempat pelayanan kesehatan yang ada di seluruh Indonesia.

Dampak dari aksi tipu-tipu Kimia Farma ini pasti menjadi hal serius, pasien yang mendapat hasil tes keliru bisa melakukan hal-hal yang membahayakan jiwanya sendiri dan lingkungannya. Mereka yang sebenarnya tertular virus corona tapi ditetapkan negatif bisa saja menyebarkan penyakitnya ke mana-mana.

Jika kita berandai dan membayangkan hukuman dari tindakan tersebut. Pihak seperti inilah yang seharusnya di isolasi di tengah hutan lalu tubuhnya diisi virus corona. Biar tau rasa !!