Biokonversi Maggot BSF Mulai Dikembangkan Juga oleh Kelompok Warga

0
89
Penanggungjawab pengembangan biokonversi Maggot BSF di lokasi TPA Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Heru (kiri) dan Nur Achsan (kanan) tengah mengambil telur Maggot untuk ditetaskan.(Foto:SN/aed)
Penanggungjawab pengembangan biokonversi Maggot BSF di lokasi TPA Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Heru (kiri) dan Nur Achsan (kanan) tengah mengambil telur Maggot untuk ditetaskan.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Maggot ”Black Soldier Fly (BSF), sebenarnya adalah jenis lalat tapi bukan lalat sebagaimana umumnya yang suka hinggap di tempat kotor kemudian juga hinggap pula di makanan yang tanpa penutup (tudung saji). Karena itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati sejak awal 2022 lalu mulai mengembangkannya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang berlokasi di Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo.

Tidak hanya itu, papar Kepala DLH yang bersangkutan, Mukhamad Tulus Budiarto, sekarang lalat tersebut juga mulai dikembangkan oleh kelompok warga, karena lalat jenis itu mempunyai prospek ekonomi cukup baik. Sebab, para pemilihara ternak ayam, burung maupun ikan bisa memberikan makanan dari jenis lalat itu.

Adapun saat ini, kelompok warga yang juga sudah mulai mengembangkan, di antaranya di wilayah Kecamatan Margorejo, Sukolilo, dan bahkan juga sudah berlangsung pula di wilayah Kecamatan Cluwak. Bahkan dari kelompok pengembang Maggot yang disebut terakhir, menarik perhartian perusahaan makanan terbesar di Pati, PT Garudafood membantu pengembangannya dengan mengalokasikan CSR-nya.

Dengan demikian, jika pengembangannya semakin meningkat dan banyak menarik minat kelompok warga, pasti akan semakin banyak sampah organik yang dibutuhkan untuk kepentingan makanannya. ”Sebab, Maggot tidak makan sampah jenis lain kecuali dari sampah buah-buahan yang membusuk dan biasanya dibuang bercampur aduk dengan sampah lain, sehingga sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan atau dipilah oleh para pemulung di tempat akhir menjadi kotor,”ujarnya.

Maggot yang baru menetas adalah pemakan rakus sampah dari buah-buahan yang membusuk (atas) dan Maggot yang sudah tidak makan lagi karena sudah memasuki masa menjadi kepompong (bawah).(Foto:SN/aed)
Maggot yang baru menetas adalah pemakan rakus sampah dari buah-buahan yang membusuk (atas) dan Maggot yang sudah tidak makan lagi karena sudah memasuki masa menjadi kepompong (bawah).(Foto:SN/aed)

Kendati lalat jenis ini juga bermetamorfose, lanjutnya, tapi dari bak-bak yang menjadi tempatnya akan berproses secara alami. Yakni, mulai dari telur yang melekat pada bilah kayu untuk tempat bertelurnya, kemudian ditetas di tempat perkakas dari plastik (nampan). Setelah telur semua menetas kemudian ditempatkan di bak yang berfungsi untuk memberi makan, dan makanan tersebut berupa sampah buah yang membusuk.

Menjelang menjadi kepompong, maka Maggot itu sudah tidak makan lagi sampai nanti berubah menjadi lalat-lalat baik jantan maupun betina. Tiba saatnya lalat-lalat antara yang jantan dan betina kawin, sehingga usai lalat jantan melaksanakan tugasnya harus menanggung risiko, karena nasib selanjutnya harus berakhir dengan kematiannnya secara alami pula.

Pencermatan Maggot yang masih dalam bentuk ulat baru menetas (atas) dan rumah (kandang) Maggot yang harus saling kawin (bawah).(Foto:SN/aed)
Pencermatan Maggot yang masih dalam bentuk ulat baru menetas (atas) dan rumah (kandang) Maggot yang harus saling kawin (bawah).(Foto:SN/aed)

Pertanyaannya, bagaimana dengan kondisi Maggot betina? Setelah kawin dan terjadi pembuahan dari Maggot jantan, maka tahap berikutnya adalah bertelur dengan mengambil tempat yang sudah disediakan dari sisir bilah kayu, dan jumlah telurnya tentu saja sulit dihitung karena kondisinya terlalu lembut, sehingga Maggot mulai bisa dihitung berapa besar tingkat perkembangannya adalah saat setelah siap menjadi kepompong.

Akan tetapi yang jelas, dari Maggot betina setelah bertelur akhirnya harus juga mengalami nasib sama dengan pejantannya, mati. ”Dari Maggot yang mati inilah, bisa dikumpulkan karena tak ubahnya seperti jangkrik sehingga bisa dimanfaatkan untuk memberi makan piaraan, baik ayam, burung maupun ikan, dan yang masih dalam bentuk ulat baru menetas jika dijual juga sudah laku,”imbuh Tulus Budiarto.