Waduk Seloromo; Siang Ditebari Benih Ikan, Sore Ambyar Tinggal Sisa

0
Saat Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen bersama Bupati Haryanto, Selasa (29/Maret) 2022 siang lalu menebar 30.000 benih ikan nila di perairan Waduk Seloromo, di Desa/Kecamatan Gembong.(Foto:SN/dok-tik)
Saat Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen bersama Bupati Haryanto, Selasa (29/Maret) 2022 siang lalu menebar 30.000 benih ikan nila di perairan Waduk Seloromo, di Desa/Kecamatan Gembong.(Foto:SN/dok-tik)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Barangkali pihak yang berkompeten di Pati kurang menyadari bahwa selama ini di kawasan Waduk Seloromo, di Desa/Kecamatan Gembong, sebenarnya banyak pemerhati lingkungan, baik secara kelompok maupun perorangan. Karena itu, kondisi perairan waduk peninggalan kolonial tersebut selalu bersih dan terhindari dari ulah tangan jahil yang menyebabkan tercemarnya perairan umum itu.

Dengan demikian, siapa pun yang hendak melakukan kegiatan sosial di kawasan lingkungan waduk, termasuk menebar benih ikan untuk meningkatkan pendapatan para nelayan tangkap di perairan tersebut hendaknya juga lebih cermat. Sebab, para pemerhati itu setiap saat selalu mengamati kejadian yang berlangsung di kawasan waduk selama ini.

Karena itu, apa yang dilakukan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen bersama Bupati Haryanto dan jajaran terkait tentu tak lepas dari perhatian salah seorang perempuan yang selama ini mengamati kondisi lingkungan Waduk Seloromo. Sebut saja namanya, R Septi Anggraeni yang selama ini juga mengamati kondisi perairan umum di Kabupaten Pati, termasuk bekas rawa-rawa di Pati selatan yang kini mulai kembali menjadi rawa-rawa lagi.

Berkait dengan tebar benih ikan jenis nila yang dilakukan Wagub Jawa bersama Bupati Haryanto, dan juga yang pernah dilakukan pihak lain, ternyata ada hal yang mengelikan sehingga saatnya kondisi tersebut perlu diketahui khalayak. ”Sebab, benih ikan baru ditebar siang hari, tapi sore harinya sudah ambyar tinggal sisa-sisanya,”ujarnya.

Sebab, lanjutnya, benih ikan itu, mulai sekitar pukul 17.00 sudah diseser nelayan waduk, dan berikutnya ikan kecil-kecil yang notabene masih dalam hitungan ”bayi” nila  itu dijadikan makanan yang lazim disebut peyek untuk santap malam. Tidak hanya dengan cara nyeser dilakukan nelayan waduk, tapi bisa diperhatikan dengan cermat sisi timur tepi waduk sepanjang dari utara ke selatan, banyak tiang bambu terpancang berderet.

Tiang-tiang itu adalah sebagai tanda/anjir bahwa dalam kedalaman air di bawahnya, terdapat bubu rapat milik nelayan waduk. Hasil tangkapan alat tangkap tradisional itu adalah udang dan ikan kecil-kecil yang sudah barang tentu, termasuk benih jenis ikan yang baru ditebar, sehingga tidak ada ikan masuk ke dalam perangkap bubu rapat itu.

Menyikap kondisi tersebut, pihaknya sudah beberapa bulan ini sering membicarakan hal itu dengan warga sekitar waduk, hal itu mengingat hasil waduk terbanyak adalah jenis udang. Udang-udang kecil itulah yang selama ini menjadi pakan alami ikan yang tumbuh dan berkembang di waduk, dan jika ikannya juga dibiarkan tumbuh besar sampai bertelur dan menetas menjadi anakan, berapa juta benih yang tertebar secara alami di waduk tersebut.

Hanya karena demi kepentingan sesaat, membuat para nelayan waduk kurang bersabar dan memang tidak ada larangan menangkap ikan dengan bubu atau nyeser, keculai menggunakan strum, tuba maupun pestisida. ” Kami menyarankan, jika sehabis tebar benih hendaknya ada pengawasan beberapa hari, agar benih ikan yang ditebar sudah bisa beradaptasi dengan kondisi perairan waduk,”imbuhnya.