Gelaran Monolog Para Ruh; Sebelum Pameran Patung di Jepara yang Meluar Batas

0
77
M Iskak Wijaya, menampilkan monolog ''Para Ruh'' bersama pemahat patung Dwi Tunggak.(Foto:SN/dok-hp)

SAMIN-NEWS.com, JEPARA – Salah seorang seniman-budayawan Jepara, M Iskak Wijaya menggelar monolog ”Para Ruh,” sebagai pengantar berlangsungnya pameran patung ”Meluar Batas”  oleh seniman patung Dwi Tunggak. Acara tersebut digelar di Waroeng Mas Jenggo, di Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang, Jepara, Sabtu (1/Januari) 2022 kemarin.

Monolog tersebut, papar Produser dan art director Didin Ardiansyah, sengaja ditampilkan lebih dahulu sebelum berlangsungnya pameran patung Dwi Tunggak, karena antara keduanya saling berhubungan. Sedangkan monolog tersebut mengisahkan dialog bersama antara manusia dengan karyanya, dan dalam ini diwakili oleh patung-patung itu.

”Dengan demikian, lanjutnya, patung-patung tersebut menjadi simbol peradaban yang abadi,”ujarnya.

Sementara menurut Iskak Wijaya, monolog tersebut menceritakan para ruh yang ada, khususnya di belantara patung-patung dan mewakili para leluhur mulia dari Jepara dan Indonesia yang menyampaikan cita-cita besar dalam nuansa tantangan dan hambatan saat ini. Karena itu para ruh disimbolisasikan pada patung-patung yang dipahat di Dwi Tunggak.

Hal tersebut seolah para ruh itu hadir dari masa lalu, tapi sampai saat ini masih terus menyampaikan pesan dan nasihat bijaksana kepada para pemuda generasi sekarang. ”Yakni, untuk apa lagi, jika tidak untuk terus berkiprak mengeluti dan terus mengembangkan seni-budaya,”paparnya.

Penyaji Monolog ”Para Ruh” M Iskak Wijaya berfoto bersama dengan  para pematung Dwi Tunggak Jepara.(Foto:SN/dok-hp)

Dalam kesempatan tersebut, hadir sejumlah pengiat budaya, seperti Dr Muh Fakrihun Naam MSn dari Unes Semarang. Selain itu juga Ketua Dewan Kesenian Kustam Eko Jalu, dan sejumlah pegiat budaya lainnya, seperti Salim, Budi Karya, Brodin, dan Burhan.

Untuk pameran patung ”Meluar Batas”, merupakan pameran tunggal Dwi Tunggak yang akan dibuka Sabtu (8/Januari) 2022 pekan depan pukul 20.00 WIB, dan akan berlangsung selama Januari. Dalam kesempatan  itu ada sejumlah acara yang akan mengisi  pameran patung tersebut.

Sedangkan pentas monolog dan pameran ini dihelat oleh Gandrung Project di awal tahun sebagai pembukaan salah satu pergerakan seni budaya. Sebab, gerakan seni di Jepara itu sangat aktif dan maju, sehingga harus didukung agar tumbuh di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Apalagi, jika seni memang bukan unsur sampingan atau bahkan hal yang tersier, tapi seni adalah nafas kehidupan itu sendiri. ”Tanpa seni, manusia tak lebih hanya seongggok makhluk yang mengeras seperti batu,”tambah M Iskak Wijaya.

Ketua Dewan Kesenian Jepara, Kustam Eko Jalu dan salah seorang budayawan Jepara, Hadi Priyanto.(Foto:SN/dok-hp)

Dalam kerja bareng tersebut, Gandrung Project menggandeng komunitas rekan seniman muda dari berbagai minat mulai dari musik, teater, sastra dan yang lainnya. Hal tersebut juga termasuk dengan Kafe Mas Jenggo, Yayasan Kartini Indonesi, dan Yayasan Lingkar Limolasan Jepara, sehingga kerja bareng itu diharapkan menjadi strategi untuk penguatan jaringan antarkomunitas.

Ketua Dewan Kesenian Jepara, Kustam Eka Jalu menyampaikan apresiasinya  atas kegiatan tersebut, dan hal itu merupakan pentas pembuka pagelaran seni 2022. Sedangkan salah seorang budayawan Jepara lainnya, Hadi Priyanto mengungkapkan bahwa kolaborasi antara pelaku seni diharapkan mampu menjadi pemantik dan ciri perkembangan seni di Jepara.

Di sisi lain, promotor dan sekaligus produser Gandrung Project, Didin Ardiansyah mengungkapkan, bahwa ruang kreativitas perlu terus dibangun dan dikembangkan. Sedangkan pementasan monolog ”Para Ruh” Iskak Wijaya ini, ternyata sarat dengan berbagai kritik berkait dengan persoalan yang terjadi di masyarakat, termasuk kesulitan para petani dalam upaya mendapatkan pupuk.

Padahal, mereka ini sudah memiliki kartu tani sehingga masalah tersebut perlu pembenahan serius, agar para petani memperoleh haknya. Selain itu ada pula kritik tentang carut-marut kehidupan politik, dan juga ormas-ormas yang sering kali merasa lebih suci dari pada Tuhan.(hp)