Dalam Berkarya Pematung Dwik Tunggak Tak Ingin Merusak Keindahan Alam

0
45
Seniman patung Jepara, Dwik Tunggak.(Foto:SN/dok-hp)  

SAMIN-NEWS.com, JEPARA – Bagi pria kelahiran Makasar 30 November 1960 silam, Dwik Tunggak dalam berkarya memahat untuk patung kayu adalah sebuah perjalanan ”sprittual.” Karena itu, seniman yang mulai menapaki jalan hidupnya di Jepara sejak Tahun 1998 itu selalu mencoba menghayati dan menikmati keindahan alam yang tergurat dalam setiap batang kayu.

Dengan demikian, dalam berkarya Dwik Tunggak pun sangat memperhatikan alur dan bahkan guratan yang ada pada media karyanya, karena alam telah memberikan kayu-kayu itu suatu keindahan alami yang luar biasa. Sedangkan ia tinggal menyempurnakan dalam sebuah karya, sehingga ia tidak ingin merusak keindahan kayu dan pahatannya.

Kendati sudah 24 tahun lebih berkarya, Dwik Tunggak masih saja mencoba ”membaca dan mendengar bisikan ” kayu-kayu yang akan diciptakan menjadi sebuah karya. Sehingga dia pun meminta bimbingan dari Hyang Kuasa untuk menyempurnakan keindahan alam itu, dan tidak merusaknya dalam karya dan imajinasi yang liar.

Karena itu, media dupa atau wewangian pun digunakan untuk menjaga karya-karyanya, agar tidak merusak estetika alam. ”Sehingga kembali ke alam dalam proses penciptaan karya tersebut juga harus dipentingkan,”tandasnya.

Dwik Tunggak dan karya patung primitif-nya (Foto:SN/dok-hp)

”Jika kemudian dalam proses penciptaan itu harus dibakar, diamplas, dilabur tanah, atau bahkan cat, hal itu semata-mata agar aura alamnya semakin tergurat kuat,”imbuhnya.

Berkait dengan perjalanan Dwik Tunggak, hal itu dimulai sejak ia duduk di bangku SMP, di Makasar. Ia sangat menyukai pelajaran prakarya yang memberikan kebebasan pada siswa untuk memanfaatkan limbah yang ada di alam terbuka, sehingga ia dapat membentuknya menjadi sebuah karya.

Kecintaan pada alam dan keindahan itu pula yang kemudian membuatnya meninggalkan Makasar, ketimbang menyelesaikan pendidikannya di SMA. Ada banyak pulau dan kota yang disinggahi  hingga Tahun 1998 ia tiba di Jepara, dan jatuh cinta pada budaya masyarakatnya, seni ukir.

Pematung Dwik Tunggak.(Foto:SN/aed)

Melihat orang berkarya di belakang gunung dan melihat cara mereka memahat, membuatnya demikian terpikat. Kemudia ia membeli pahat dan menggunakan media karya yang berasal limbah kayu di pesisir laut Jepara. Baru sekitar Tahun 2000 ia menggunakan media kayu jati hingga sekarang.

Meskipun beberapa karyanya mendapat Hak Kekayaan Intelektual, dan ribuan patung primitif diciptakan. Di antaranya ada yang dinikmati sejumlah negara, tapi ia mengaku tidak pernah memasarkan karya-karyanya. Ia pun mampu menghasilkan empat buah patung dalam satu bulan.

Agenda Pameran Patung ”Meluar Batas” di Waroeng Mas Jenggo di Jinggotan, Kecamatan Kembang,Jepara.(Foto:SN/dok-hp)

Jika sekarang ada Pameran Patung ”Meluar Batas” yang di prakarsai Mas Iskak dan Mas Didin, tambahnya, itu adalah penghargaan atas proses pencipataan sebuah karya. Tentu saja ia sangat mengharga, karena di Jepara memang tidak tersedia ruang atau tempat khusus untuk memberikan apresiasi karya-karya seniman setempat.

Dalam usianya yang kini telah semakin tua, Dwik Tunggak masih terus setia berkarya.”Kami ingin terus mengabdikan sisa umur ini untuk menghadirkan estetika alam dari guratan kayu, agar dapat dinikmati oleh masyarakat,”pungkasnya.(hp).