FRPB Pati Kerja Bakti Ikut Memperbaiki Tanggul Bobol di Ketitang Wetan

0
54
Bersama personel dari jajaran Koramil dan Polsek Batangan, Forum Relawan Peduli Bencana (FRPB) Pati, Rabu (1/Desember) 2021 kemarin, beramai-ramai kerja bakti memperbaiki tanggul alur Kali di Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan.(Foto:SN/dok-tik)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Bobolnya tanggul alur kali di sejumlah wilayah di Kabupaten Pati saat hujan deras beberapa hari lalu, hal tersebut seharusnya menjadi peringatan bagi warga yang di wilayahnya dilintasi alur kali. Sebab, ancaman bobolnya tanggul tidak tertutup kemungkinan masih bisa terjadi, utamanya saat berlangsungnya cuaca ektrem antara Januari dan Februari 2022 mendatang.

Dengan demikian, paling tidak pihak yang berkompeten menyampaikan imbauan kepada pemerintahan di desa, lebih-lebih yang berlokasi di hulu atau sepanjang tepi alur kali. Yakni,untuk tidak lagi membuang berbagai jenis ”sangkrah” ke alur kali, lebih-lebih yang berupa potongan pokok batang pohon maupun rumpun bambu, serta potongan batang pohon pisang sebagaimana yang mereka lakukan selama ini.

Karena itu, papar Ketua Forum Relawan Peduli Bencana (FRPB) Pati, Sutiknya, ditanya seusai bersama para personel anggotanya bekerja bakti memperbaiki tanggul yang bobol di Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Rabu (1/Desember) 2021 kemarin, pihaknya sependapat apa yang disampaikan Kepala DPUTR Kabupaten Pati. ”Yakni, bahwa potongan balok kayu dan pokoknya, termasuk rumpun bambu dan potongan batang pohon pisang, adalah menjadi salah satu penyebab bobolnya tanggul,”tandasnya.

Anggota FRPB bersama masyarakat warga Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, mengisi karung plastik dengan tanah sebagai pengganti tanggul yang bobol.(Foto:SN/dok-tik)

Sebab, lanjutnya, material buangan dari hulu saat digelontor derasnya arus air, maka hanyutnya tentu akan lebih cepat, sehingga kadang-kadang pada lokasi alur kali yang menikung menabrak tanggul ber-ulang-ulang  memang tak bisa dihindari. Apalagi, alur kali yang sempit dan tanggulnya selain tinggi juga tipis, seperti tanggul kali di Ketitang Wetan yang bobol mencapai panjang 10 meter, lebar tanggul hanya 2,5 meter, dan ketinggiannya mencapai 4 meter.

Mengingat alur kali tersebut melintas di dalam desa, maka saat tanggul bobol terjadi limpahan air tentu luber ke lingkungan permukiman warga. Apalagi, kejadiannya pada pukul 04.00 subuh dinihari, sehingga membuat repot warga yang tinggalnya di kawasan hilir kali, karena hal-hal seperti itu memang sulit dihindari, maka yang berdomisili di kawasan hulu yang harus menyadari hal itu.

Anggota FRPB Pati saat bersama-sama menata tumpukan karung plastik untuk menutup tanggul alur kali di Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan yang bobol.(Foto:SN/dok-tik)

Apalagi, saat ini untuk datangnya musim penghujan belum terlalu ekstrem tapi kejadian bobolnya tanggul bebarapa alur kali yang berlangsung di beberapa wilayah sudah tak bisa dihindari. ”Dengan demikian, munculnya kejadian tersebut adalah sebagai peringatan awal yang seharusnya menyadarkan kita, untuk tidak membuang berbagai material tak terpakai ke dalam alur kali,”tandasnya.