Anggota Komisi C DPRD Pati Haryono; Desak Normalisasi Alur Kali Selok

0
69
Anggota Komisi C DPRD Pati dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), H Haryono.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Salah seorang anggota Komisi C DPRD Pati dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), H Haryono menyatakan keprihatinannnya. Sebab, salah sebuah alur kali yang panjangnya lebih dari 4 kilometer dari hulu ke hilir selama ini sama sekali tidak pernah tersentuh upaya normalisasi, meskipun alirnya sangat dibutuhkan para petani tambak di kawasan hilir Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana.

Sedangkan alur kali dimaksud, paparnya adalah Kali Selok karena melintasi lokasi sekitar Pasar Selok di perbatasan antara Desa Bakaran Kulo dan Langgenhajo. Akan tetapi alur kali tersebut oleh warga setempat juga dikenal sebagai Kali Wesi yang beberapa bulan lalu fasilitas jembatannya di ruas jalan Juwana-Tayu, sempat ambrol pada salah satu sisinya, dan selesai diperbaiki.

Akan tetapi sekarang, kondisi salah satu sisinya kiri dari arah Juwana yang tidak ikut diperbaiki, sekarang juga mulai muncul tanda-tanda mengalami kerusakan. Karena itu sebagai Wakil Rakyat asal Dapil Juwana yang membidangi masalah tersebut pun minta perhatian terhadap kondisi alur Kali Selok dan jembatan tersebut.

Apalagi, dalam rapat paripurna DPRD saat berlangsung penyampaian pandangan umum fraksi pihaknya sudah menyampaikan kondisi tersebut, sehingga harapannya agar di Tahun 2022 agar ada perhatian dari pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat. ”Hanya saja yang berkait dengan alur Kali Selok, tentu masih memunculkan kendala lantaran statusnya adalah di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juwana,”ujarnya.

Bagian kawasan hilir alur Kali Selok yang semula cukup lebar, sekarang dalam kondisi dangkal dan kian menyempit, sehingga bisa dilompati.(Foto:SN/dok-har-aed)

Padahal, air alur kali itu, lanjutnya sangat dibutuhkan oleh para petani tambak yang berlokasi di kawasan hilir. Akan tetapi, karena kali tersebut selama ini sudah diambil alih oleh kewenangan BBWS,  maka pihak pemkab setempat atau OPD terkait tingkat kabupaten tentunya harus mengusulkan pelaksanaan normalisasinya.

Sebab, jika tidak ada upaya itu, maka selamanya alur kali baik yang di hulu maupun di hilir akan kian menyempit, sehingga dampaknya akan terlihat jelas saat musim penghujan. Hal tersebut mengingat, alur kali itu berhulu dari alur Kali Gungwedi yang melintas pula di Desa/Kecamatan Wedarijaksa yang bila di kawasan hulu (Muria) terjadi hujan deras gelontoran luapan airnya juga cukup besar.

Akibat di kawasan hilir dalam kondisi kian menyempit, maka luberan luapan pun limpas ke mana-mana kemudian masuk ke areal persawahan di Langgenharjo. Keluar dari areal persawahan warga, maka limpasan air pun luber ke jalan raya Juwana-Tayu, dan berikutnya air pun memasuki desa di kawasan pantai, di antaranya adalah di Agungmulyo, juga di Kecamatan Juwana.

Karena itu, sekali lagi, baik BBWS maupun OPD terkait kondisi alur kali tersebut maupun alur kali lainnya, hendaknya benar-benar menaruh perhatian lebih, agar tidak menyusahkan masyarakat. ”Dengan demikian, paling tidak upaya normalisasi harus dialokasikan untuk alur kali yang selama ini menyulitkan masyarakat, karena bila hujan memunculkan terjadinya genangan di areal persawahan,”imbuhnya.