Upaya Pemajuan Kebudayaan Harus Ditangani Lintas Sektoral

0
102
Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya DI Yogyakarta, Dra Dwi Ratna Nurhajarini MHum bersama mantan Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Pati, Paryanto, dan para peraga peran Ketoprak Indonesiana Pati.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Dalam upaya pemajuan kebudayaan tidak bisa jika hanya ditangani dari satu sektor, melainkan harus lintas sektoral. Sehingga hal tersebut tidak hanya menjadi tugas dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, apalagi setelah terbitnya UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Sebab, Pemajuan Kebudayaan adalah sebuah upaya untuk meningkatkan ketahanan budaya Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia, maka upaya memajukan kebudayaan harus diikuti dengan pemajuan budaya di daerah yang menjadi bagian dari budaya nasional, sehingga ketahanannya barus benar-benar diupayakan bersama.

Karena itu, ungkap Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya DI Yogyakarta, Dra Dwi Ratna Nurhajarini MHum, pihaknya sangat responship terhadap upaya pemajuan seni-budaya di Pati yang mendapat dukungan maksimal dari Bidang Kebudayaan Dinas Penmdidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati. Salah satu hasil nyata di antaranya, yaitu ditetapkannya  kesenian Wayang Topeng Soneyan sebagai ”Warisan Budaya Takbenda”.

Sedangkan yang satu lagi, adalah ”Batik Bakaran,” tapi yang semula di ajukan ada pemajuan seni budaya di empat desa, di antaranya adalah Prawoto, Kecamatan Sukolilo, dan Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal. ”Akan tetapi yang mendapat persetujuan hanya dua,”ujarnya.

Sementara itu kehadiran Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya DI Yogyakarta yang bersangkutan di Pati, yaitu sebagai rangkaian pementasan kesenian Ketoprak Indonesiana, di halaman ”Sanggar Pasinaon” Desa Budaya Kertomolyo, Kecamatan Trangkil. Hal tersebut sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan ”workshop” penulisan naskah cerita ketoprak yang berlangsung di balai desa setempat, 21s/d 23 Oktober 2021 lalu.

Dari penulisan naskah cerita secara berkelompok, ada dua cerita untuk pertunjukan kesenian tradisional ketoprak dan pertunnjukan teater modern. Untuk yang cerita ketoprak klasik ”Geger Patiayam” ditampilkan semalam (tadi malam), dan yang seni modern dengan tetap menggunakan idiom seni pertunukan ketoprak berjudul ”Weton” ditampilkan di tempat sama, Rabu (10/November) nanti malam.