Perlu Keberanian Menggunakan Pupuk NPK Buatan Sendiri

0
68
Penanggung jawab pengelolaan pada Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) Spald di kawasan komplek TPA Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Pati, Suwiryo.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, GAGASANNYA selama ini tak lain ingin mewujudkan agar pemakaian pupuk untuk tanaman yang dibudidayakan, utamanya para petani, adalah pupuk buatan sendiri. Sebab, bahan untuk keperluan itu banyak terdapat di kawasan lingkungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, di Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo.

Bahan yang dimaksud untuk keperluan tersebut, paparnya dalam berbincang dengan ”Samin News”, Senin (22/November) 2021 tadi pagi, adalah limbah  dan bahan organik lainnya berupa sampah yang bisa dimanfaatkan. Akan tetapi sebelum menjadi bahan buangan terlebih dahulu harus dipilah, bahan organik dan bahan lain yang masih bisa didaur ulang.

Khusus disebut terakhir, kandungan sampah yang terbuang biasanya hanya sebanyak 30 persen dan 70 persen sisanya berupa limbah organik, sehingga jika diproses menjadi pupuk tentu memakan biaya cukup besar. Salah satu yang tidak membutuhkan banyak biaya, adalah pemanfaatan limbah dari instalasi pengolahan limbah tinja (IPLT) yang selama ini sudah dicoba untuk diproduksi.

Akan tetapi pemanfaatnya masih sangat terbatas, hanya untuk kalangan sendiri, karena tidak banyak masyarakat yang tertarik maupun menggunakannya. ”Karena itu, para petani kita tentu tak mampu mencari terobosan jalan pemecahan bila tiap tahun harus menghadapi kesulitan  dalam upaya mendapatkan pupuk buatan pabrik, atau pupuk kimia atau juga pupuk non-organik,”ujarnya.

Pupuk organik dari hasil sisa pengolahan limbah di IPLT kawasan TPA sampah Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Pati.(Foto:SN/aed)

Karena itu, masih papar Suwiryo, perlu adanya perubahan pemahaman di kalangan para petani dan juga institusi/lembaga terkait dalam hal pemahaman tentang manfaat pupuk sendiri. Sehingga tidak terpaku pada penggunaan pupuk buatan pabrik mesti lebih unggul hasilnya dibanding penggunaan pupuk organik buatan sendiri, maka perlu muncul siapa pihak yang berkompeten berani memulainya.

Masalahnya, sampai saat ini proses pembuatan pupuk dari bahan organik ini belum pernah diujikan ke laboratorium, sehingga untuk pemakaiannya dalam sekala besar tentu masih menghadapi kendala. Padahal, dari bahan yang diolah saja jika ditambah satu unsur N (nitrogen) justru akan mudah menjadi pupuk NPK, yaitu nitrogen, fosfor (P) dan kalium (K).

Contoh tanaman yang menggunakan pupuk dari hasil IPLT, baik jenis kacang hijau maupun cabai.(Foto:SN/aed)

Untuk mencapai unsur itu juga tidak sulit, karena cukup dicampur dengan abu sekam, maka unsur perbandingan tentu harus menyesuaikan. Sedang pupuk NPK itu memiliki kandungan unsur hara dari nitrogen, fosfor dan kalium dengan beragam persentasenya tentu, sehingga jika pihak berkompeten ada yang memberikan contoh penggunaannya dalam skala besar seperti untuk demplot, pasti akan ada petani yang mengikuti.

Hanya saja sayangnya, sampai saat ini sisi lain dari IPLT memang hanya terbatas itu ke itu saja, tanpa mempunyai nilai lebih yang maksimal. Padahal, jika bahan organik dari sampah yang terbuang tersebut diolah secara maksimal, hasil pupuk organik yang didapat juga akan maksimal. ”Lagi pula hasilnya juga tidak kalah dengan pupuk buatan pabrik,”imbuh Suwiryo.

Lebih baik ada keberanian jajaran pihak terkait untuk mencoba!!