Catatan yang Tercecer dari GSMS; Perlu Menjaga Konsistensi dalam Membesut Sebuah Tontonan

0
127
Salah satu adegan dalam pertunjukan ketoprak dengan cerita ”Rara Kuning”, di mana sutradara maunya memasukkan unsur pertunjukan teater modern, tapi tidak konsisten menjaga berlangsungnya pertunjukan tersebut.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, DALAM pelaksanaan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) tentu semua unsur seniman dilibatkan, termasuk mereka yang berangkat dari unsur seni pertunjukan (teater) modern. Akan tetapi dari kelompok seniman ini, hasil besutan pertunjukannya kurang bisa menjaga konsistensi penampilan selama pertunjukannya berlangsung.

Jika dicermati ternyata yang menjadi faktor penyebab, tak lain karena seniman yang bersangkutan dalam membesut pertunjukannya bermaksud memasukkan unsur pertunjukan seni tradisional ketoprak karena terikat cerita yang dimainkan. Akan tetapi tidak disadari bahwa, objek sararan pembelajaran adalah anak-anak yang sebagian besar masih duduk di bangku SD.

Dengan demikian, saat di panggung saja mereka sudah terbebani bagaimana melaksanakan peran secara tidak langsung berlaku keinginan, agar bisa secepatnya menyelesaikan tugas tersebut. Sehingga anak-anak ini tetap akan menghadapi kesulitan, maka rasanya akan menjadi beban berat bagi mereka jika untuk melakukan improvisasi baik dalam berdialog maupun berakting.

Karena itu, sebelum para seniman ini memberikan pembelajaran kepada mereka dalam urusan pertunjukan ini hendaknya bisa disiapkan lakon yang mudah dicerna dan dilaksanakan oleh anak-anak. Tapi jika sudah menempatkan posisi lakon yang digarap sudah disepakati hari itu, hendaknya tampilan pertunjukannya tetap menjaga konsistensi agar yang menonton benar-benar bisa menikmati meskipun itu yang membawakan adalah anak-anak.

Seperti lakon ”Rara Kuning,” sebenarnya adalah cerita ketoprak dengan mengambil setting cerita Pati. Yakni, di mana tokoh tersebut sosok perempuan cantik sebagai penari sehingga membuat salah seorang yang disebut Ki Blotho, jatuh cinta ”kepati-pati,” di mana adegan tersebut dibuka dengan gambar siluet seorang perempuan (Rara Kuning) tengah menjalani ”laku” ritual sebagai seorang penari yang dalam penampilan tersebut disebut sebagai penari tayub.

Dampak dari tidak konsistennya sutradara, maka semua alur cerita tentang tokoh itu hendak ditampilkan keseluruhan, tapi jadinya justru terpotong-potong. Padahal, seharusnya sutradara bisa jeli menjadikan cerita tersebut menjadi sebuah cerita serial karena terbatasnya waktu, seperti ”Rara Kuning” untuk serial ”Gong Watu,” di mana dalam serial tersebut antara Rara Kuning dengan Ki Blotho harus beradu kelebihan.

Begitu ditolak cintanya, tiba-tiba Ki Blotho, mengeluarkan sabda bahwa gong milik Rara Kuning berubah jadi batu. Demikian pula, tumpukan padi milik Ki ”Blotho” juga disabda Rara Kuning jadi gundukan tanah, kemudian Rara Kuning Sakit dan meninggal, tapi tiba-tiba Ki Blotho yang datang ke tempat tinggal Rara Kuning juga ikut meninggal di pangkuan perempuan itu yang konon disebutkan sesuai sumpahnya.

Salah satu penabuh gamelan pengiring pertunjukan ketoprak dengan lakon ”Baron Skeber” serial ”Geger Patiayam” dari GSMS SDN 02 Kedalon, Kecamatan Batangan yang tampil di hari ke -11, Minggu (7/November) kemarin).(Foto:SN/aed)

Terlepas dari hal tersebut, dalam pelaksanaan GSMS yang berlangsung di 65 sekolah tahun ini yang mempunyai nilai lebih, adalah dari anak-anak yang bertugas menabuh gamelan pengiring untuk seni pertunnjukan ketoprak. Kebanyakan anak-anak rata-rata sudah bisa menjadi pengiring pertunjukan tersebut yang tentunya menjadi hal baru bagi mereka.

Bahkan, papar salah seorang penabuh gamelan kawakan, Mbah Gayo (70) secara jujur sempat treyuh ketika melihat anak-anak yang cekatan dan ”titis” dalam menabuh gamelan. Dengan demikian, harapan ke depan dia merasa ada gantungan pada generasi yang jelas akan menggantikannya, terutama para penabuh gamelan di sekolah yang diasuh oleh Slamet Tewel, dan masih ada satu lainnya yang juga diasuh pelatih Yono.

Mengingat hasil yang dicapai oleh anak-anak peserta program GSMS ini, paling tidak menumbuhkan harapan bahwa pecinta seni gamelan, utamanya adalah para penabuhnya. Terima kasih kepada pemerintah yang punya program cukup bagus ini agar bisa terus berkelanjutan, sehingga seni budaya Jawa tetap akan bisa tumbuh dan berkembang di masa mendatang.

”Apalagi yang dipelajari oleh bangsa lain di luar negeri, sekarang ini juga sudah cukup banyak. Benar-benar membanggakan kemampuan anak-anak sekarang,”imbuhnya.