Berakhir Rangkaian Upaya Pemajuan Budaya Lokal di Pati

0
73
Pementasan ketoprak ”Indonesiana” di Desa Budaya Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, Rabu (10/November) 2021 semalam (tadi malam) mengakhiri denyut kiprah rangkaian upaya pemajuan budaya lokal di Pati.(Foto:SN/dok-wan)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Berlangsungnya pementasan ketoprak “Indonesiana” di Desa Budaya, Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, Pati, Rabu (10/November) 2021 semalam (tadi malam), maka berakhirlah rangkaian para seniman dan pemerintah kabupaten setempat dalam upaya pemajuan budaya daerah. Karena itu, hari-hari mendatang sudah semestinya jika tetap terus ditunggu untuk upaya kelanjutannya, sehingga apa yang sudah dikerjakan berbulan-bulan ini tidak hanya berhenti di tengah jalan, dan biasanya juga berakhir tanpa kejelasan.

Apalagi, berdasarkan pantauan sejak sekitar empat bulan lalu, sudah dimulai dengan kiprah para seniman/seniwati bergabung untuk melaksanakan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Program dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi itu sebenarnya sudah dimulai sejak 2010, sebagai konsekuensi atas turunnya UU No 5 Tahun 2017 tentang Kemajuan Kebudayaan sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan budaya Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia.

Dengan demikian, papar beberapa seniman, berkait hal itu upaya tersebut harus diikuti dengan pemajuan budaya di daerah yang menjadi bagian dari budaya nasional. ”Mengingat hal tersebut, maka semua pihak harus mempunyai komitmen untuk memulainya dari sekarang, agar jangan sampai terjadi hal saling menunggu atau bahkan masa bodoh, karena semua adalah merupakan amanat undang-undang,”ujar salah seorang dari kalangan seniman muda, Beni Dewa.

Hal tersebut ditopang pendapat, seniman lainnya dari kelompok teater modern, Nursam, Pati harus sudah mempunyai pusat kegiatan kebudayaan, sehingga semua upaya yang berkait dengan pemajuannya menjadi terpusat. Dengan cara tersebut, baik antarseniman dan budayawan bisa saling berinteraksi dalam menampung dan menindaklanjuti gagasan-gagasan yang dimunculkan.

Jika sudah demikian, maka proses berikutnya jika berkait dengan hal kesenian bisa menggunakan Pendapa Kemiri sebagai pusatnya. Seperti pementasan ketoprak ”Indonesiana” ini adalah hasil proses dari upaya tindak lanjut GSMS dengan ”workshop” penulisan naskah cerita, dan berlatih hasil pembesutannya mengambil tempat di pendapa tersebut.

Hasilnya, dua kelompok ketoprak ”Indonesiana” bisa menampilkan cerita ”Geger Patiayam” untuk ketoprak tradisonal dan ”Weton” untuk kelompok teater modern. Sebelum pementasan mengakhiri rangkaian upaya pemajauan budaya daerah, seperti ada festival budaya di Desa Wisata Kertomulyo juga ada workshop penulisan nakah.

Hadir dan ikut ambil bagian sebagai penanggung jawab rangkaian tersebut, adalah pihak Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DI Yogyakarta. Bahkan untuk Kepala balai yang bersangkutan, Dra Dwi Ratna Nurhajarini MHum bersama rombongan ikut hadir dan menunggui para seniman/seniwatiu dalam berproses tanpa harus banyak bicara, tapi hasil nyata adalah realitanya.

Diminta tanggapannya berkait hal tersebut, mantan Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Pati Paryanto, menekankan apa yang dirintis selama ini tidak putus di tengah jalan. ”Untuk fasilitas, sementara ini para seniman bisa memanfaatkan Pendapa Kemiri karena yang bertanggung jawab atas fasilitas tersebut adalah Bidang Kebudayaan,”imbuhnya.