Seni Barongan SD Negeri 02 Sungingwarno, Kecamatan Gabus Masuk dalam Program GSMS

0
251
Gamelan pengiring pertunjukan seni barongan dalam program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) SD Negeri 02 Sunggingwarno, Kecamatan Gabus, Pati.(Foto:SN/dok-wan)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Dari alokasi program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di Pati, 45 sekolah di antaranya sudah menggarap seni pertunjukan ketoprak, dan sisanya dua lainnya menggarap seni pertunjukan barongan. Seni pertnjukan yang disebut terakhir, untuk Pati masih tertinggal jauh dengan kabupaten tetangga, seperti Kabupaten Blora, maupun Kabupaten Kudus.

Bahkan kalangan anak-anak di kawasan Kota Kretek, seperti Loram, Karangrowo dan Karangturi untuk aaknak-anak usia SD sudah bisa memainkan barongan, atau nama lain dari Singo Barong. Karena itu, jika dalam program GSMS ini ada dua sekolah yang senimannya menggarap seni pertunjukan itu, diharapkan dalam program GSMS tahun berikutnya, banyak juga yang tertarik menggarap seni pertunjukan yang jika di Pati tidak ada yang mempertahankan, pasti akan punah.

Padahal, di Pati juga cukup potensial dengan kesenian barongan tersebut dan juga pernah mempunyai tokoh barongan, Sumolewo. Sedangkan desa yang mempunyai kesenian tersebut dan cukup terkenal adalah Dukuh Triwil, Desa Sinoman, Kecamatan Pati, serta Desa Tlogomojo, Kecamatan Batangan yang sampai sekarang masih mampu bertahan.

Selebihnya, masih ada juga kelompok kesenian barongan seperti di Desa Krasak dan Kuwawur, di Kecamatan Sukolilo, sehingga perlu dipersiapkan kelompok kesenian tersebut dari kalangan anak-anak. Dengan demikian, apa yang ditampilkan seniman untuk anak-anak SD Negeri 02 Sunggingwarno, Kecamatan Gabus, patut kiranya untuk diapresiasi, karena dalam penampilannya seni pertunjukan itu juga dikemas dalam sebuah cerita, hikayat Panji.

Tampilan barongan atau Singobarong dalam cerita Alapan-alapan Dewi Sekartaji.(Foto:SN/dok-wan)

Dalam cerita hikayat Panji itu, tersebutlah Adipati Bantarangin, Prabu Klana Suwanda yang jatuh cinta kepada Dewi Sekartaji, putri Raja Kediri, sehingga diperintahlah Bujangganong/Pujangganom untuk meminangnya. Berangkatlah utusan itu yang disertai 144 prajurit yang masing-masing dipimpin oleh Senopati Kuda Larean, Kuda Panagar, Kuda Panyisih, dan Kuda Sangsangan yang semua prajurit itu berkuda.

Saat perjalanan mereka sampai di hutan Wengker, rombongan prajurit itu diadang Singo Barong yang sebenarnya merupakan jelmaan Adipati Gembong Amijoyo. Karena mereka diminta kembali dan tidak usah melanjutkan perjalanan untuk meminang dewi Sekartaji di Kediri, maka terjadilah pertempuran hebat tapi semua prjarit berhasil dikalahkan.

Akan tetapi empat senopati Bantarangin berhasil meloloskan duri, kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Adipati Klana Suwandono. Adipati tersebut tetap akan membalas kekalahan prajuritnya melawon Singo Barong/Adipati Gembong Amijoyo, dan bersamaan dengan itu Panji Asmoro Bangun dari Jenggala juga dalam perjalanan menuju ke Kediri, untuk meminang Dewi Sekartaji bersama pengikut setianya Noyontoko dan Untub.

Sesampainya di hutan Wengker perjalannya juga diadang Singo Barong, mereka diminta kembali tidak usah melanjutkan menuju Kediri. Perang pun tak bisa dihindari, Singobarong pun berhasil dibunuh tapi asal ada yang menyampaikan ”sesumbar” orang tersebut bisa hidup kembali, sehingga Raden Panji sampai kewalahan dan harus minta bantuan sahabatnya, Joko Lodro dari Kedung Srenge, dan akhirnya Singobarong berhasil dibunuh dengan senjata Joko Lodro berupa pecut Samandiman.

Oleh Panjiasmorobangun yang mengetahui bahwa yang dibunuh kawannya adalah Adipati Gembong Amijoyo, maka orang tersebut kembali dihidupkan tapi sudah tidak bisa kembali sebagai manusia. Dengan demikian, wujudnya adalah sebagai Singobarong dan akhirnya menjadi pengikut setia Raden Panji Asmorobangun beserta para prajuritnya.