Tanaman Jagung di Sukolilo yang Tergenang Banjir Dijual Untuk Pakan Ternak

0
33
Salah seorang pekerja yang mengusung tanaman jagung (tebon) tergenang banjir yang sudah dijual pemiliknya sebagai pakan ternak, dan pembeli dari Kudus ini juga sudah siap angkut.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Dampak tergenangnya tanaman jagung muda oleh banjir akibat hujan deras yang turun beberapa malam, di wilayah Kecamatan Sukolilo dan sekitarnya, petani pemilik lahan ”banarawa” (bekas rawa) kesulitan menyalamatkan tanaman miliknya. Meraka adalah para petani di Desa Gadudero dan juga Kasiyan, di kecamatan setempat.

Karena itu, tidak ada cara lain kecuali harus menjual tanaman jagung muda (tebon) itu kepada pembeli yang memang mencarinya untuk pakan ternak. Biasanya hal tersebut dilakukan pembeli dari beberapa desa di Kudus, Seperti Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo juga ada yang berasal dari Desa Kesambi, dan Temulus, Kecamatan mejobo di mana banyak warga yang memelihara kerbau.

Dengan kata lain, papar beberapa pekerja potong dan pengangkut tamanan jagung yang tergenang banjir dari lahan menuju pinggir jalan raya Cengkalsewu, Kecamatan Sukolilo ke Bulung, Kecamatan Jekulo. ”Beberapa petani pemilik tanaman tersebut rata-rata memghindari dari genangan air yang dipastikan akan bertambah dalam pada hari-hari berikutnya,”ujar salah seorang di antara mereka, Juwadi, asal Temulus, Kecamatan Mejobo, Kudus.

Lagi pula, lanjut dia, jika tidak segera dipotong maka tanaman jagung itu lama-lama akan menguning, dan selanjutnya mati, sehingga kurang menarik untuk dijual lagi sebagai pakan ternak. Berbeda dengan tanaman jagung yang daunnya masih hijau segar tersebut, masih tetap berlaku untuk dijual lagi untuk warga yang memiliki hewan piaraan

Mengingat hal tersebut, lanjut dia, setelah tanaman jagung tersebut ditebang dari lahan kemudian diikat menggunakan tali bambu, sehingga mudah dihitung ada berapa puluh atau ratus ikatan. Sebab, tidak mungkin dalam melakukan pembelian untuk setengah atau satu hektare langsung ditebang semua, karena hal itu akan kesulitan dalam upaya menjualnya lagi.

Untuk harga beli satu ikat dari lahan adalah Rp 3.000, dan jika dijual kepada pemilik ternak biasanya hanya laku Rp 3.500 per ikat. ”Dengan hanya mengambil keuntungan Rp 500 per ikat, tentu hasilnya tidak seberapa karena masih harus membayar para pekerja belum lagi ongkos kendaraan pengangkutnya kecuali kendaran punya sendiri, sehingga hanya tinggal membeli bahan bakarnya,”imbuhnya.