Luar Tembok Pagar Pasar Wage Tidak Bisa Dipandang Sebelah Mata

0
79
Pasar Hewan Margorejo
Suasana luar tembok sisi kanan Pasar Hewan Margorejo yang juga dikenal dengan sebutan Pasar Wage.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com , SATU di antara empat tempat pelacuran di Desa/Kecamatan Margorejo, untuk ukuran lingkungan luar tembok Pasar Hewan Margorejo, di pinggir jalan raya Pati-Kudus, adalah tergolong yang paling ecek-ecek. Kendati demikian, lokasi ini sebelum resmi ditutup oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati juga ramai oleh pengunjung, utamanya pada malam hari, dan bahkan tiap pasaran Wage tak mengenal pagi siang maupun malam.

Tidak cukup hanya itu, warung remang-remang penyedia jasa ”esek-esek” meskipun lambat tapi pasti sudah bertambah semakin ke timur, karena dirasa tetap aman. Sebab, peminat jasa layanan tersebut bukanlah sama dengan yang di Lorong Indah (LI), Kampung Baru (KB) maupun di Ngemblok, karena awalnya praktek ”esek-esek” berasal dari dalam lingkungan pasar hewan, kemudian diusir pihak pengelola pasar.

Akhirnya praktik mesum ini pun beralih di luar tembok pagar sisi kanan, sehingga muncullah gubuk-gubuk liar di tengah areal persawahan sebagai tempatnya. Lama kelamaan dari kondisi gubuk itu berubah, dan ganti muncul bangunan rumah yang pada awalnya memang hanya dipandang sebelah mata, tapi tahu-tahu sudah berdiri tempat esek-esek lainya.

Sedangkan di satu sisi, akhirnya mengikuti pepatah ”ada gula ada semut,” karena di tempat tersebut pun berdiri warung kopi yang menjadi pusat bertemunya orang-orang campur-aduk. Maksudnya, orang-orang yang memang bertujuan hendak minum kopi atau di balik itu mempunyai tujuan sambil minum kopi mencari ”cemilan” lain.

Kendati di deretan luar tembok pagar pasar hewan ini ada beberapa warung yang memang tutup tapi ada juga sebagai tempat mangkal beberapa perempuan, di hari pasaran Wage seperti Sabtu (25/September) hari ini.(Foto:SN/aed)

Di lokasi tersebut kesempatan itu sedikit demi sedikit mulai terkuak, karena pihak yang berkompeten memang memandangnya hanya sebelah mata, atau bahkan menganggap bahwa praktik ”esek-esek” sudah tidak akan berlangsung lagi. Dengan demikian, untuk lokasi ini juga dipandang tidak perlu difasilitasi pos penjagaan sebagaimana yang disediakan di kompleks Lorong Indah maupun di KB dan Ngemblok.

Dari dua kompleks yang disebut terakhir, saat ini juga tengah dipersiapan fasilitas pos penjagaan semipermanen, tepat di ujung jalan masuk ke lorong KB dan juga ke Ngemblok. Karena itu, melalui upaya tersebut diharapkan agar para pemilik usaha jasa ”esek-esek” ini lama kelamaan menjadi bosan menunggu, kemudian berubah sikap meninggalkan usaha jasanya itu untuk waktu seterusnya.

Jika perkiraan tersebut benar, maka upaya itu benar-benar patut mendapat acungan jempol karena dengan saling bertahan, tinggal mana pihak yang mampu bertahan. Apakah itu pihak pemilik usaha jasa ”esek-esek” atau pihak yang berkompeten pemkab setempat sebagai pengambil inisiatif menutup tempat-tempat prostitusi di Kabupaten Pati .

Akan tetapi, jika melihat mulai munculnya sedikit celah longgar dari upaya pengawasan seperti di luar tembok pagar sisi kanan Pasar Wage, hal itu menunjukkan adanya tanda-tanda personel yang bertugas di Pospam mulai dilanda kejenuhan. Karena itu, untuk lokasi di luar pagar tembok sisi kanan pasar hewan tersebut barangkali, cukup dipantau dari kejauhan saja, mengingat lokasi paling besar di Margorejo selain LI adalah KB, dan belakangan disusul Ngemblok.