Ndompleng Kemenangan Greysia-Apriliani, Salahkah?

0
24

TEKNIK marketing politik di Indonesia dewasa ini terasa begitu beragam. Yang terbaru, sejumlah tokoh politik nampak begitu bergelora untuk “ndompleng” ketenaran Greysia Polii dan Apriliani Rahayu yang berhasil memenangkan medali emas Olimpiade Tokyo 2020.

Lucu memang, bagaimana tidak? Dengan kemenangan kedua atlet tersebut, kita mendadak seolah dipaksa berbagai foto dan banner ucapan selamat atas keberhasilan tersebut.

Beberapa pihak sangat menyayangkan hal ini, sebab cara mereka dianggap keliru atau kurang tepat. Lihat saja di beberapa banner ucapan tersebut yang justru tidak jarang foto politikus tersebut lebih besar dari pada foto atletnya sendiri.

Salah satu politikus yang memajang poster ucapan selamat lengkap dengan fotonya sendiri adalah Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Selamat atas diraihnya medali emas Olimpiade 2020 – Tokyo, Jepang. Greysia Polii-Apriyani Rahayu. Ganda putri – bulutangkis,” demikian yang tertulis di poster AHY lengkap dengan fotonya pada 2 Agustus 2021 lalu.

Ada pula poster serupa yang diunggah oleh anggota DPR komisi X dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Ledia Hanifa. “Selamat kepada Apriyani Rahayu-Greysia Polii yang telah meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 cabang bulu tangkis,” demikian yang tertulis di akun Instagram Ledia kemarin.

Banyak pihak menganggap momentum ini justru hanya dijadikan sebagai medium untuk mendongkrak elektabilitas jelang musim politik 2024.

Secara prinsip, lantas apakah langkah narsis mereka tersebut menjadi hal yang salah?

Pakar komunikasi digital UI, Firman Kurniawan, menganalisis fenomena foto politikus muncul dalam ucapan selamat kepada atlet.

Firman awalnya menjelaskan bahwa cara mengkomunikasikan diri pada event dan moment yang sedang menjadi perhatian publik, lebih dahulu diadaptasi di dunia komunikasi pemasaran.

“Pada komunikasi politik, senada cara berpikirnya: adanya event dan moment, memberikan alasan bagi munculnya profil politisi di hadapan publik. Tanpa kedua unsur itu, publik akan bertanya, untuk tujuan apa politisi memunculkan wajahnya di hadapan publik. Buang-buang waktu saja,”  jelasnya.

Sederhananya, Firman menganggap hal tersebut wajar-wajar saja.

Namun, hemat saya sendiri jangan lah terlalu mengeksploitasi semua even sebagai sarana untuk berkampanye. Sebab, publik tentu akan begitu jengah jika mereka menggunakan semua hal sebagai medium untuk mendongkrak nama mereka.