Selebriti Penjaja Pengetahuan dan Matinya Era Kepakaran

0
10

DALAM masa dengan banjir informasi seperti sekarang ini, sebagai masyarakat awam, pikiran kita belakangan tentu seringkali bergemuruh, bertentangan yang berujung pada kebingungan tak berkesudahan.

Dengan melimpahnya berbagai informasi, publik tentu dituntut mampu merakit dan memfilter serpihan-serpihan informasi agar dapat dianggap sebagai sebuah pengetahuan yang benar.

Tantangan revolusi berliterasi tentu perlu didengungkan.

Dalam kondisi yang terombang-ambing seperti ini, seringkali muncul idola-idola baru. Kita sebut saja selebritis pengetahuan, ia bukanlah peneliti, dosen, ataupun profesional yang memang menekuni bidang ilmu pengetahuan apapun.

Selebriti-selebriti seperti ini kerap kali tampil begitu mencerahkan meskipun pada kenyataan ia hanya punya otak pas-pasan.

Dengan bermodal kamampua berbicara yang meyakinkan, ia kini seringkali dianggap sebagai orang yang mampu membawa perubahan.

Viral, itulah kelebihan mereka. Sebab, meskipun seringkali berbicara berbusa-busa, boleh jadi mereka tak paham itu penelitian dan bagaimana ilmu pengetahuan dikembangkan.

Ibarat pengiklan produk, mereka adalah peng-endors, bukan produsen, apalagi yang berada di laboratorium, yang berjibaku setiap saat menghasilkan inovasi produk.

Hadirnya para selebriti pengetahuan di berbagai platform seperti Youtube dan Instagram barangkali adalah penanda kematian era kepakaran.

Ya, kalau boleh usul, para  ilmuwan sudah seharusnya bergerak dari menara gading ke menara sosial digital. Tidak usah lagi merasa harus membumi, karena media sosial digital telah ada digenggaman.