Penutupan Akses Jalan Ujung Barat JLS; Pemotor Pilih Melintas di Atas Trotoar

0
52
Trotoar jalan nasional Pati-Kudus sepanjang 120 meter depan Gudang Bulog 204, di Desa Sokokulon, Kecamatan Margorejo, baik pagi, siang, sore hingga malam hari menjadi pilihan untuk melintas para penggendara motor.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Ditutupnya akses jalan nasional dari barat atau Kudus-Pati, di ujung Jalur Lingkar Selatan (JLS) masuk Desa Sokokulon, Kecamatan Margorejo, membuat para pengguna jalan dari arah tersebut memilih lewat di trotoar depan Gudang Bulok 204. Alasannya, lebih cepat dalam menghindari pemasangan barier yang menutup ruas jalan itu ke arah timur.

Penutupan akses jalan itu  dilakukan, karena hal tersebut menjadi bagian dari upaya pelaksanaan Pemberlakuan Pemabatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang sudah berlangsung dua pekan, sejak Sabtu (3/Juli) lalu. Sejak penutupan itulah banyak pengguna jalan yang melanggar larangan masuk, baik pengendara motor maupun mobil yang tiap hari melintas dari barat.

Berdasarkan pantauan di lokasi berkait hal tesebut, semua pengguna jalan dari barat sesampainya di lampu pengatur lalu lintas di pertigaan ujung barat JLS di Sokokulon, seharusnya belok kanan masuk ke ruas JLS tersebut. Sebab, akses jalan yang ke timur, mulai depan Gudang Bulog 204 seluruhnya ditutup, tinggal satu jalur dengan dua lajur  untuk arus lalu lintas dari timur (kota).

Khusus jalur ini, ternyata juga sering diterobos pengguna jalan dari barat, tapi bagi pengendara motor yang tidak ingin melanggar, maka mereka memilih melintas di atas totoar. Yakni, mulai dari sisi kiri pintu masuk ke Gudang Bulog 204 sampai batas pagar gudang yang sama di sebelah timur, sehingga yang terlihat adalah pemandangan tidak pada tempatnya.

Akses ruas jalan yang ditutup dan dua pengendara motor dari barat yang turun dari trotoar untuk kembali masuk ke jalan raya.(Foto:SN/aed)

Di sisi lain, banyak juga pengguna jalan dari barat yang semula patuh untuk tidak main terobos di ruas jalan sisi jalur untuk pengguna jalan dari timur, sehingga mereka setelah menunggu lampu pengatur lalu lintas dari nyala merah berganti hijau baru belok kanan, masuk JLS. Akan tetapi, baru berjalan tak lebih dari 150 meter akhirnya pun memilih melanggar, karena penutupan jalan tersebut tidak dijaga petugas.

Sedangkan akses jalan yang dilanggar, yaitu bagian dari ruas JLS di belakang dan sisi timur Tugu Bandeng, di ujung barat pertigaan itu. Kendari ruas jalan tersebut sudah ditutup dari dua ujungnya, ternyata oleh pengguna yang berkendara mobil dan kernet truk, termasuk truk pengangkut semen pun tak ketinggalan ikut membukanya.

Akses ruas jalan yang ditutup dan dua pengendara motor dari barat yang turun dari trotoar untuk kembali masuk ke jalan raya.(Foto:SN/aed)

Melihat kondisi seperti itu, maka upaya penyekatan agar pengguna jalan agar tidak terlalu banyak masuk ke kota sehingga dialihkan ke ruas JLS, adalah sama sekali tak ada manfaatnya. Hal sama juga berlangsung di ujung timur ruas JLS Pati, di Desa Widorakandang, Kecamatan Pati yang juga sama-sama dilakukan penutupan sejak pelaksanaan PPKM Darurat.

Diminta tanggapan berkait hal tersebut, Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pati, Eko Budi Santosa tidak mengelak, dan bahkan sampai atasannya harus melakukan monitoring langsung ke lapangan. ”Kebanyakan yang melanggar penutupan dan penyekatan jalan adalah warga lokal (Pati),”ujarnya.