Budaya Dengar dan Kalutnya Pandemi di Indonesia

0
20

BELUM lama ini Jurnlis kondang Najwa Shihab mengunggah sebuah video di laman Instagram melalui akun pribadinya dengan caption “Virus Dusta di Grup Whatsapp Keluarga”. Ya, sebenarnya hal ini bukanlah fenomen baru, meskipun begitu, dalam konteks pandemi hal tersebut tentu menambah kusutnya penanganan virus corona.

Dalam unggahan tersebut, Najwa sekali lagi mengklarifikasi hoaks tentang pesan berantai yang mangatasnamakan dirinya yang berisi tentang berbagai informasi sesat mengenai Covid-19.

“Ini bukan tulisan saya. Mari selalu berhati-hati menerima informasi. Setiap tulisan atau info dari saya silakan bisa dicek di akun resmi medsos saya atau Narasi TV atau Narasi News Room. Hati-hati juga jika menerima video yang sudah dipotong-potong sehingga konteksnya tidak utuh,” jelasnya.

Dalam tulisan itu, orang yang menuliskan tersebut menuliskan pembodohan soal pemeriksaan PCR yang saat ini sedang banyak dilakukan.

Pertanyaannya, mengapa masih saja banyak orang yang begitu saja mempercayai berbagai informasi-informasi sesat seperti ini?

Tidak bisa dipungkiri, budaya berliterasi di Indonesia masih begitu minim, rata-rata masyarakat negeri ini masih saja berkutat pada budaya dengar saja. Sederhananya, masyarakat kita hingga kini memang cenderung lebih suka mempercayai infomasi yang mereka dengar tanpa merunut asal muasal informasi tersebut.

Dalam budaya semacam ini, siapa yang berbicara adalah kunci dari keberhasilan menyebarnya informasi. Contoh, kita tentu seringkali mendengar ungkapan-ungkapan bodoh mengenai Covid-19 dari berbagai tokoh seperti selebritas atau bahkan hanya sekedar guru ngaji di kampung kita.

Jika saja, masyarakat Indonesia sudah memiliki kesadaran berliterasi, tentu hal semacam ini bisa dihindari. Dari contoh kasus Hoaks yang mengatasnamakan Najwa Shihab, ia dengan jelas mengatakan bahwa setiap tulisan atau info dari saya silakan bisa dicek di akun resmi medsos saya atau Narasi TV atau Narasi News Room.

Dalam konteks tersebut, siapapun tentu tidak akan percaya dengan hoaks yang mengatasnamakan Najwa Shihab jika mau mencari dan mengecak kebenarannya melalui berbagi akun resmi miliknya.

Ya, budaya masyarakat Indonesia memang budaya dengar. Tidak bisa terelakkan lagi, jika tidak percaya, tengok saja viewer video alur cerita film tentu akan ribuan kali lipat lebih ramai dari pada video review dan kritik film.

Padahal seperti kita ketahui bahwa kekuatan film tentu berada pada pengalaman sinematik yang terdiri dari cerita, kemampuan akting, penyutradaraan, sinematografi dll. Lantas, mengapa masih saja ada seseorang yang lebih suka dengan video alur film yang hanya berisikan orang bercerita?

Ahh, mungkin juga ini lah yang memicu pendongeng-pendongeng popular seperti Elon Musk atau Mardigu Wowik begitu digemari di Indonesia.